Moment Menyebalkan

Jahara! Penipuan terbarukah ini???

Aku dibangunkan Ibu pada jam yang tidak tepat. Aku masih sangat mengantuk, sadar diri melihat jam dinding menunjukkan pukul setengah dua belas siang? *Argh, lagi-lagi aku gak konsisten pada hal yang sudah kuputuskan. Maafkan aku, diriku.*

Aku mendengar suara gemerisik. Ibu bilang lagi cari e-KTP.

Eng-ing-eng…

Mataku melek seketika, rasa kantukku menguap.

Untuk apa e-KTP?

Ibu menceritakan panjang lebar. Aku tertawa terbahak-bahak mendengarnya.

“Geg Tha, apa itu benar?” Tanya Ibu. Aku masih menuntaskan tawaku.

Pagi *eh, ralat* siang yang super bikin mood apa banget.

Aku sedikit sebal, mengira Ibu tertarik oleh penawaran bombastis itu. “Ibu, lalu untuk apa repot cari e-KTP?” tanyaku.

“Ibu hanya lupa menaruhnya dimana.” Jawabnya.

Baiklah, itu artinya aku bisa menarik selimutku dan kembali tidur. Ah, luar biasa pagi *ralat* siang ini, batinku.

Saat Ibu memintaku untuk segera cuci muka, mendadak aku ingat sesuatu.

“Ibu, siapa yang menawari hal itu?” tanyaku cepat.

Ibu menyebut sebuah nama. Sebuah nama yang gak asing ditelingaku. Terbayang sudah garis di dahinya yang menunjuk dia adalah seorang taat pada kepercayaan yang dianutnya. Tentang untaian kata *maaf ya* pembualan yang kuketahui betul, membuat orang disekitarnya *maaf ya* mual. Yang sering bercerita tentang kehidupannya yang penuh dengan pengabdian pada yang dipujanya. #Catatan : Maaf, aku gak mau debat soal paragraf ini. Aku punya alasan kenapa menyinggung bagian ini. Akan kujelaskan nanti di akhir.

Aku sempat berpikir, teman Ibu adalah korban. Tapi dari kronologis yang diceritakan Ibu, kami menyimpulkan dia *maaf ya* bersekongkol.

Berhari-hari Ibu berpikir jawaban apa yang akan Ibu berikan jika temannya itu menagih e-KTP tanpa menyinggung perasaannya, pun tanpa menunjukkan bahwa Ibu tahu akan ditipu.

Ibu dan temannya, supaya mudah sebut saja namanya Si Jahara. #LOL 😀

Si Jahara ini cukup dekat dengan Ibu, dan di setiap kesempatan selalu, SELALU, SE LA LU, memuji-muji Ibu. Mengagung-agungkan kebaikan yang Ibu lakukan. Bahkan Si Jahara mengakui, ME NGA KUI mengidolakan Ibu.

Ibu gak pernah peduli itu, sebab dimataku, Ibu lebih suka “TINDAKAN” ketimbang “BICARA”.

Aku jadi tergelitik. Luar biasa meditasi yang dilakukan Ibu, aku bahkan tidak bisa bayangkan bagaimana jika Ibu tidak bisa menahan diri lalu Ibu blak-blakan berkata padanya, “Jika Anda mengagumi saya, bisakah Anda menebarkan kebaikan yang Anda punya untuk dibagikan pada siapapun? Sesuai yang telah Anda pelajari. Anda bisa melakukan hal baik melebihi yang saya lakukan. Bahkan pengetahuan yang Anda miliki sudah jauh tinggi. Buktikan bahwa Anda mengamalkan pengetahuan yang Anda bagikan pada kami (teman lainnya).”

Ya, Si Jahara ini sering bercerita, BER CE RI TA heboh ke semua orang tentang pelayanan baik yang dilakukannya. Menunjukkan betapa murah hati dan dermawannya ia.

Pelajaran pertama yang kupetik disini adalah orang bersungguh-sungguh dan orang yang sok-sokan itu punya perbedaan, tentang pengakuan.

Ibarat orang kaya sungguhan, gak butuh diakui bahwa ia orang kaya. Sedangkan orang sok kaya, sibuk sana-sini untuk cari dan butuh sekali untuk diakui kaya.

Si Jahara bukan termasuk teman dekat Ibu. Tapi, Ibu sangat menghormati siapapun didekatnya. Meski Si Jahara ini dimata Ibu sudah lama tergolong teman menyebalkan. Ibu hanya mengiyakan saja tanpa bermaksud memberi harapan.

Jadi, pagi itu, Si Jahara bilang, saking terpukaunya ia dengan kebaikan Ibu, Si Jahara mengiming-imingi Ibu uang belasan juta. Katanya sih dari bank luar negeri, uang untuk rakyat. Ibu akan diberikan selembar cek yang bisa dicairkan bulan Agustus. Dengan catatan, jangan bilang siapa-siapa dulu.

Wah? Kenapa begitu? Itulah kecurigaan Ibu. Jawaban Si Jahara adalah ia kurang tau. Jadilah Ibu diminta untuk membuktikannya. Dengan syarat menyerahkan fotokopi e-KTP beserta pas photo 3×4 dengan latar putih.

So? Dikira praktikum kali ya? Pakai eksperimen segala.

Dan yang perlu kutekankan disini, Si Jahara bilang, ia memegang stempel cap-nya. Wow! :O

Aku yang mendengar kronologis lengkap dari cerita Ibu langsung cek google. Aku menemukan dua berita ini : (http://m.solopos.com/2017/06/10/dengan-iming-iming-bantuan-warga-klaten-diminta-kumpulkan-fotokopi-e-ktp-dan-bayar-rp5-000-824150

dan

http://m.solopos.com/2017/06/14/kesbangpol-klaten-sebut-aktivitas-un-swissindo-kumpulkan-fotokopi-e-ktp-warga-tak-bisa-dibenarkan-825515) Belum ketahuan sih kebenarannya bagaimana, dan belum ditindak yang gimana-gimana juga.

Entah benar atau salah, kenapa coba sampai hati menyeret teman yang katanya baik. Duh, pujiannya itu lho, ada maunya rupanya…

Soal e-KTP, itu bukan hal main-main kan ya? Gimana kalau disalah gunakan? Mengerikan!

Soal keyakinan, kenapa coba harus bawa nama-nama Tuhan. Sungguh, aku memang bukan pengikut keyakinan yang dipercayainya. Tapi aku juga mengagumi dan memuja nama yang sama. Aku sampai malu menemukan seorang pengikut *maaf* mengaku-ngaku taat hingga tanpa segan memamerkan garis yang sangat terlihat menor, yang terlukis didahinya di hadapan banyak orang.

Aku tahu betul ajaran Tuhan tidak salah, tapi pemuja-NYA lah yang terlalu menggembar-gemborkan.

Aku jadi sedih… Apa ya kalimat yang tepat untuk ungkapan ini?

Kenapa ya, agama atau keyakinan atau apapun sebutannya itu dijadikan hal yang mudah diperjualbelikan demi keuntungan sendiri dan merugikan orang lain?

Pelajaran kedua yang bisa kupetik disini, jangan pernah percaya pada orang yang begitu mudah menyebut nama Tuhan untuk hal-hal yang dibuat agar terdengar meyakinkan. Karena semudah itulah ia menginjak dengan segala keingkarannya.

Denpasar, 7 Juli 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s