Moment Menyebalkan

Rahinan Greget

Sore itu, sekitar tahun 2015 kalau tidak salah ingat. Saya sedang merampungkan jejahitan ceper untuk canang sembari mendengarkan musik instrumental di bale bali. Hingga tidak lama, ada seseorang menghampiri. Duduk lalu memperhatikan saya yang sibuk dengan ceklak-ceklik, menstaples janur. Ia lalu berkomentar mengenai singsing yang saya gunakan sudah layu.

Saya diam, mendengarkan celotehnya meski kuping memanas. Ia terus berkomentar. Mulai dari kalimat penghakiman hingga sok mentang-mentang. Ia seperti habis makan pete, sehingga ‘pete’ aja dibawa. Ia terus-terus dan terus berkomentar, membandingkan jejahitan saya dan jejahitan punyanya. Serta mengatakan apa yang diucapkannya adalah kebenaran.

Saat itu, detik itu, saya tidak hanya merampungkan jejahitan semata. Tapi juga sedang meditasi. Instrumental yang saya nyalakan adalah salah satu lagu puja. Ya, siapapun pasti gak setuju, kalau sedang puasa lalu rusak hanya karena setitik noda. Maka, diam bagi saya saat itu adalah kemenangan. Bukan berarti saat itu saya gak bisa membela diri, tapi saya takut kelepasan.

Mumpung saya ada mood nulis, dan mumpung teringat, saya akan jembrengkan disini. Saya beberkan kenapa saya diam. Diluar alasan meditasi.

Pertama-tama, saya mengakui, saya bukanlah orang mampu. Punya cukup uang, lalu bisa membaginya sedikit untuk ganjal perut, sedikit untuk berhari raya, sedikit keperluan menyama braya, dan terakhir sedikit uang disimpan untuk hal yang tak terduga. Itu kan penting ya? Kita hidup tidak untuk hari ini saja, ada esok, dan esok harinya lagi.

Kedua, singsing itu hanya sedikit layu. Bukan bekas, bukan juga sisa. Diperayaan sebelumnya, singsing yang saya buat melebihi jumlah yang dibutuhkan. Apa salah kalau dimanfaatkan untuk perayaan berikutnya yang jaraknya tidak berjauhan? Janur yang dipakaipun dibelinya juga mahal.

Ketiga, saya bahagia bisa merayakan hari raya. Semampu saya, sebisa saya. Tanpa harus pusing mikir ada tidaknya uang untuk ganjal perut dihari esok.

Soal, kalau kita yakin pada Tuhan, pasti IA beri untuk mencukupi kebutuhan esok.

Astaga, saya sangat percaya itu. Tapi realita dong, ah! Kenyataannya, hidup selalu meminta kita untuk bisa mengatur keuangan yang ada. Syukur-syukur ada lebih bisa ditabung.
Saya juga bahagia, bisa berhari raya tanpa meminjam sepeserpun dana dari siapapun. Saya merasa sukses bisa mererainan tanpa berhutang. Tanpa memaksakan diri untuk serba cetar membahana, hanya demi gengsi semata.
Saya bahagia merayakan hari raya tanpa pertengkaran. Adu mulut sana-sini. Ribut tak keruan.
Saya juga bahagia, bisa tenang berhari raya tanpa gali lubang, tutup lubang. Tidak sampai ngemis sana-sini untuk ganjal perut atau di tetiba berada di keadaan darurat begitu hari raya berlalu.
Gak usah sombong, bisa berhari raya dengan segala persiapan yang super ‘wah’ tapi diluar kemampuan.

Jangan bangga cuma karena habis menguliti persiapan hari raya saya yang ‘katanya’ jauh buruk ketimbang persiapan punyanya.

Saya lebih ke bersyukur, bisa merayakan dengan hati tulus, mempersembahkan pada-NYA sejauh apa yang saya mampu dan bisa. Gak jadi yang marah-marah karena banyak pikiran. Pusing besok mau minjem uang ke siapa lagi untuk ganjal perut. Atau khawatir tidak punya uang untuk keadaan darurat maupun gae nyama braya. Atau berpikir, bisa gak lunasin hutang nantinya? Cari uang kemana lagi?

Jadi ya, gak ada beban antara kebutuhan hidup dan berhari raya.

Bicara soal demi Tuhan, masa sih tidak mempersembahkan yang terbaik sebagai rasa syukur?

Ya, balik lagi ke soal keuangan, kalau gak punya lebih, ya di sederhanakan saja. Semampunya, gak usah melewati batas yang sesungguhnya kita gak mampu. Apalagi cuma alasan gengsi. Ih, ngeri!

Menurut saya, bukankah Tuhan tidak nuntut hal yang hanyalah sebuah sarana menuntun menuju-NYA semata. Tapi tentang bagaimana kita bisa menghayati setiap nuas (memotong) janur, merangkai dengan suka cita, menandingnya seindah mungkin. Lalu kembali pada rasa bakti, ikhlas, bahagia tanpa masalah. Itukan sama dengan kelanggengan.

Biar, biarlah! Hanya Tuhan yang berhak menilai kemampuan persembahan dari saya kepada-NYA.

Bukan penilaian anda yang hanya, hanya seorang manusia biasa —yang penuh ego.

Tabik.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s