Huh!

Ish, ish, ish!

‘Plok, sreeett plok, srett pok-mpok, ssssshhh plok.’
Meski sudah bertahun-tahun sering melihat dia mencuci pakaiannya sendiri. Tetap saja, aku selalu merasa terkaget-kaget mendengar suara itu. Suara yang berasal kain basah yang di angkat tinggi-tinggi diturunkan dengan kekuatan penuh yang kemudian beradu papan cucian. Aku mengingatnya sebagai dia yang sedang mengamuk. Biasanya dia melakukannya sambil mencercau. Meracau entah apa. Sumpah serapah macam apa lagi yang tidak sampai ke telingaku —kami.
Ada traumatika yang sampai kini, bukan cukup ‘hanya’ membekas, tapi ada luka-luka baru yang sengaja dia buat, lalu disertai taburan garam tak berkesudahan. Perih!
Pernah ada, sedikit rasa kasihan. Andai dia bisa sedikit menghargai diantara kami. Tidak akan ada seorangpun dari kami yang ‘tidak tergerak’ untuk membantunya. Bahkan kami bisa memperlakukan dia layaknya raja. Sesuai mimpi-mimpinya, dambaannya selama ini.
*) Terinspirasi dari sebuah percakapan yang ditutupi dengan kalimat, “Ya, coba gantikan posisi kami —aku— sehari saja, biar kalian tau betapa nikmatnya hidup kami ini.”

Hah, nikmat? Satir sekali.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s