Huh!

Hilang oh Hilang

Aku terbangun pukul sebelas siang. Berjalan menuju kamar mandi masih dalam keadaan terhuyung.
Kebetulan dia berjalan didepanku. Aku mengekorinya hingga mataku terbelalak. Sendal jepit pink bermotif kartun anak yang dipakainya milik adikku.
Nah kebetulan, adikku keluar dari kamarnya. Kuseretlah adikku. Menanyakan, apakah sandal kesayangannya itu sudah rusak atau memang sudah dilempar ke tong sampah.
Adikku tertawa renyah. “Itu tuh, Ade naroh sendal dibawah kursi. Ya, Mbok Tha taulah, itu sandal fav Ade. Ade niatnya biar gak kotor, kena hujan. Yaudah tak tarok disitu. Eh, besoknya ilang. Dicari, eh dia yang pakai.” Jawabnya panjang kali lebar.
“Ade masih suka pakai sandal itu?” Tanyaku blak-blakan.
“Iyalah, Mbok Tha,” jawabnya jujur.
“Yha, diikhlasin aja, De.” ucapku yang langsung ditanggapi dengan anggukan.
Dihari berikutnya, sandal jepit itu sudah entah dimana. Mungkin disimpan oleh dia.
Ini mengingatku dengan cincin ekslusif punya Ibu. Cincin perak model ala gelang bayi yang bisa dierat-longgarkan, yang lumayan tahan bertahun-tahun gak berubah warna (dagangnya gak nipu, ternyata).
Nah, suatu hari, Ibu menaruh cincin itu di kotak sabun di kamar mandi. Lalu lupa dan tertinggal. Begitu dicari, tidak ketemu. Eh, gak lama ketemulah itu cincin. Dimana?

Yak, dijemari dia si dia.
Ibu sedikit berat hati, cincin berdesain unik miliknya diambil orang. “Yak, diikhlasin aja, Bu.”
Aku merasa #DeJavu mengatakan kalimat sama untuk kejadian yang sedikit mirip.

​

Catatan :

Ada dua bulan lebih tulisan ini ku-draft, mendadak di suatu sore pulang dari keperluan di luar rumah. Aku kehilangan sandal. Sandal manik-manik bebatuan khas bali. Serius, aku gak salah meletakkan.

Ditengah-tengah kebingungan mengelilingi rumah, adikku berbisik, “Mbok Tha, dia lho tadi tak lihat ngambil sandalnya. Mbok Tha sih lepas sandal sembarangan. Mana dekat kain jaritnya pula.”

Aku langsung kaget banget. Sudah ketebak sih sebenarnya. Aku langsung ngadu ke Bapak. Untuk cek en ricek. Bapak bilang nanti dicarikan.

Lalu, aku cerita pada Ibu. Ibu mikirnya sandalku yang hilang itu sandal jepit biru rumahan yang sudah dekil. Pantas saja sebelumnya Ibu mikir itu gak apa. Begitu tau sandal merah manikku hilang, Ibu langsung lemas.

Ya, itu sandal jepitku satu-satunya khusus berpergian, khusus acara gak penting dan non formal.
Lalu, disaat aku sudah mengikhlaskannya, eh tetiba udah ngejogrok aje tuh sandal di pojokan.

Gak ada yang tau kenapa bisa ada disana. Padahal tadinya dicari gak ada.
Adikku yang pertama kali tau. Kemudian memberitahuku. Begitu sandalku ketemu, aku menimang antara ambil atau tidak.

Adikku dengan enteng menjawab, “Ambil ajalah, Mbok Tha. Selamatkan! Toh dia gak bakal tau gimana cara pakai ini sandal. Percuma dia nyuri itu. Pas dipakai, batu doang.”

Aku langsung terpingkal-pingkal mendengarnya. Langsung saja aku menenteng sepasang sandal kesayanganku dan berjalan cepat tanpa suara diikuti adikku.

Apakah ini karma? Kualat?

Meski ini remeh, yak… Tapi beneran, ini sandal selalu dipakai kemana aja. Gak pakai ribet. Kecuali acaranya rada penting dan berkelas.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s