Moment Menyebalkan

Rasanya Insomnia

Bedewei, ini tahun ke empat saya mengonsumsi obat tidur. Dan, di blog ini kebetulan ada kategori “Kampret Moment”. Orang terdekat berpikir, saya sekasar itu. Padahal istilah ‘kampret’ yang saya maksud disini bukan kata umpatan. Tapi semacam “Telolet”, “Tulalit”, “Lola”, dan kata nyeleneh lainnya.

Tapi berhubung banyak yang salah paham, ya akhirnya saya googling dong, “Kampret” itu sebenarnya apa.
Yes yes yes, menurut empat situs yang saya temui di google, penjelasan mengatakan ‘kampret’ itu bukan umpatan. Tapi people jaman now nganggep dan menjadikannya sebagai umpatan sejenis (maaf ya) “anjing”, “tai”, “tolol” dan kata-kata buruk lainnya.

Dari hasil penelusuran lain menyatakan, kampret itu artinya, “Kelelawar”.

Baiklah, sudah ketemu ya, benang merah yang akan menjadi bahan di postingan ini. Pun, kategori “Kampret Moment” saya akhiri dengan postingan ini. Jika ada update terbaru, bisa dipastikan bukan lagi hal-hal menyebalkan, melainkan tentang kelelawar = insomnia.

Yuk dimulai…

Banyak orang mikir, insomnia itu cuma, CUMA susah tidur, atau jam tidur yang jungkir balik. Juga, banyak orang ngeremehin ketika ada temannya curhat soal sulitnya untuk bisa tidur. Ada juga yang bilang, “Tidur aja kok harus minum obat?”
Gak tau mereka, gimana rasanya kalau gak tidur tiga hari berturut-turut, kayak nge-zombie.

Tidur enggak, mati juga enggak. Hidup tapi berasa gak bernyawa. Depresi, eh kok ya, iya.

Saya konsultasi dengan dua dokter. Hanya saja ada kesempatan dimana saat konsultasi saya dipegang oleh entah asisten dokter, dokter praktek, dokter tugas masuk, mahasiswa kedokteran, atau apalah namanya saya kurang tau.

Ada gitu lima kali saya dapat pertanyaan yang sama macam, “Emang kalau gak minum obat gak bisa tidur?” dengan raut wajah dan nada pengucapan yang gak ngenakin.

Itu tuh sama kayak pertanyaan sensitif macam “Kapan wisuda?”, “Kapan nikah?”, “Kapan punya anak?”, “Kapan nyusul?”. Coba kalau moment-nya pas di tempat pemakaman, ditanya balik, “Kapan nyusul?” Ih, ngeri deh ngebayangin tanggapannya bakal gimana.

Ya, kalau pertanyaannya begitu, please dong ah, jabarin why oh why-nya. Bantu dengan solusi lain atau apalah yang setidaknya ada unsur penguat kenapa harus terucap pertanyaan itu beserta gimana biar bisa bebas?

Kalau mood saya baik, biasanya saya jawab dengan jembrengan usaha yang sudah saya lakukan. Jadi diskusi lancar jaya.

Nah, kalau pas mood saya lagi gak bagus, tanggapan saya begini : “Astaga Dok, kalau bisa ngapain coba saya kemari, buang waktu banget. Antrean mengular, capek nunggu. Malamnya, saya selalu ngeluh, kok tidur butuh obat sih? Kenapa ya, Dok, saya kenapa?” sambil berekspresi mendramatisir, kedua tangan memegang kepala.

(Catatan : kalau Anda kebetulan dokter yang pernah menangani saya dan saya mengucapkan kalimat diatas, maafkan saya ya, Dok? Maaf banget).

Ya jujur, jauh sebelum memutuskan konsultasi ke klinik Psikiatri, saya sudah mencoba berbagai teknik. Sampai detik surat rujukan sampai di poliklinik, itu sudah diujung pasrah, gak tahu harus bagaimana. Saya pikir, ketemu dokter adalah pilihan yang cukup memberi jawaban. Dan, keputusan itu juga diputuskan setelah saya berpikir dan cari second opinion selama tiga tahun lebih. Lamanya weee!

Awal-awal pertemuan, saya tidak diberikan obat apapun, hanya berupa sugesti diri yang sudah pernah saya terapkan sebelumnya dan teknik lain sebagainya. Namun belum sesuai harapan.
Hingga akhirnya, saya diberikan tiga macam pil. Lalu dua macam pil. Kemudian salah satunya diganti karena stok kosong. Hingga saya memberanikan diri ‘tappering off’ tanpa diskusi dengan dokter yang menangani saya.

*) Duh, jadi pengen sungkem. Minta maaf sama Dokter. Semoga ini gak berefek buruk.

Ya karena itu tadi, saya capek, tiap tidur kok ya kudu minum obat. Lalu ketemu dokter dengan pertanyaan macam itu, saya merasa down! SEKETIKA, lupa! Apa-apa saja yang sudah saya perjuangkan demi bisa tidur tanpa obat. Kemudian mulai menyalahkan diri-sendiri. Kenapa begini, kenapa begitu. Coba dulunya gini, pasti gak gitu. Ngeluh, berasa menjadi atheis paling sederhana.

Ada tipe anak yang dipojokkan lalu manjat, maksudnya menjadikan pelecut semangat. Ada juga tipe anak yang dipojokkan malah melempem lalu bundir, ups!
Saya, saya… Ee, saya ada ditengah-tengah. Anda bisa tebak jawabannya. Kejepit!?

Wah, kok jadi serius? Serius curhat?? Eh, tadi judulnya apa ya? Mau nulis apa coba? Oh iya, rasanya jadi insomnia ya?

Pertama-tama, bantu doa dong. Pengen bangetlah saya bisa tidur tanpa bantuan obat. Saya pernah nulis begini di note hape.

Semoga bisa, segera!

Maksud saya, bisa lepas obat, bisa tidur tanpa bantuan obat, btw.

Astungkara yaaa…

Baiklah, ada beberapa hal yang biasanya orang insomnia rasakan, sebagai berikut :

1. Sebelum tidur, secara refleks, atur napas. Ritme napas dibuat se-relax mungkin. Posisi tidur senyaman mungkin supaya bisa terlelap dengan mudah. Berusaha gak lihat jam, biar gak stres. Tapi tik-tok-tik-tok-tik-tok. Sampai dinihari pagi bahkan hampir pagi buta, [[[jungklang-jungkling]]] berbagai posisi, gak nemu gimana yang nyaman. Sampai lelah badan tiduran terus.

2. Suka bosan pas di keramaian. Acara [[[melali]]] santai yang seharusnya menyenangkan jadi sesuatu yang menjemukan. Suka ribet sendiri. Tapi begitu malam, rasanya kesepian banget. Cuma sendiri yang belum tidur. Sedih banget rasanya.

3. Gak bisa tidur semalaman penuh. Pas siang, mulai sedikit bisa terlelap, tapi bunyi kecil macam tetesan air itu tuh ganggu banget. Jadilah, sudah gak tidur semalaman, mood buruk, [[[singguk abedik]]] bawaannya mau marah. Tapi gak tau mau marah kesiapa. Jadilah, terjaga. Duh, berasa zombie level menengah!

4.Karena gak tidur semalaman itu, sekalinya bisa tidur, gak tanggung-tanggung, ketiduran sampai tiga jam-an, itupun bangun-bangun, mood kacau. Sudah siang mau sore. Bentar lagi ketemu malam. Tidur lagi. Stress agains.

5. Siang hari pas lagi diluar rumah, biasanya gak begitu enjoy. Kalau dirumah biasannya beraktivitas kudu banyak suntikan semangat. Bawaannya pengen nyantai tiduran di kasur. Tempat tidur berasa kayak medan magnet. Rasanya ditarik kuat-kuat. Nah, malamnya, bikes deh! Biasanya suka jadi hitung-hitungan. Kalau sampai jam dua belas malam belum juga tidur, ya sudah, baca buku atau nulis cerpen, main game atau nyosmed.

6. Siang hari itu bawaan suka ngantuk. Dimanapun. Apalagi misalnya kalau ada jadwal ke rumah sakit. Satu deretan yang berisi empat kursi pas sepi antrean, suka saya booking tanpa izin. Ngapain? Tidurlah! Gak tahan, seriously!

Eh begitu sampai rumah, ketemu kasur, kok susah tidurnya. Padahal mata sudah sepet.

7. Pas tidur, tapi belum juga bisa tidur. Kadang ya hibur dirilah ya. Suka nginget-nginget sesuatu atau kejadian lucu. Kalau layak, biasanya langsung ngetik, kadang sekedar outline, kadang kalau penuh tanpa revisi tayang besok. Dimana? Blog atau sosmed-lah. Kadang juga, mengingat kejadian konyol atau hal memalukan, atau simply, hal yang terjadi hari itu juga. Kadang ada hal yang bikin kepikiran, padahal itu tuh masalah remeh.

8. Begitu malam tiba, kok ya badan —dan tangan khususnya— kebingungan, pengen ngerjain apa gitu. Pengen inilah, itulah, apalah! Rasanya badan bertenaga. Siap ngerjain apapun yang menyenangkan. Buktinya?

Nih, sederet buku ini dikerjain malam hari. Main komputer, ketak-ketik, ada lomba nulis. Tema cocok, eh beruntung dibukukan.

Malam hari itu tuh, keseringan muncul ide yang entah dari mana. Kalau gak sigap nangkapnya, atau besok siangnya lupa, berasa kecewa banget.

9. Kadang juga udah di tempat tidur, kok ya otak berasa gak bisa di-off-in. On melulu. Ada aja yang dipikirin. Terlebih misalnya siang hari ada kegiatan atau yang lupa dikerjain. Jadi mikir, kenapa gak di siang hari tadi aja se-aktif ini. Pasti banyak yang sudah dikerjain. ZBL!

10. Di siang hari, selalu mikir mau ngapain. Kadang mikirnya lama sekali. Kalaupun sudah ada catatan kecil di tembok, kok ya berasa gak termotivasi. Eh, begitu menjelang malam [[[kemrungsung]]] mendadak siaga ngerjain, padahal kepentok malam. “Sudah malam, ikan bobo…” Ada yang inget itu iklan apa?

11. Dengerin musik instrumental. Mutar tiga sampai lima instrument, mulai sedikit ngantuk. Tapi sampai habis satu album, bukannya terhanyut lalu tidur, eh malah bersenandung.

“Nanana…nanana…nanana… Syalala…lalala… Dudududu… Oooouuuooo aw, aaw… Terengteng ting ting, truuuiiinnggg… Jreng jeng… Do…mi…sol… Re…fa…si…doooooo….”

12. And the last one, “Tidur awal selalu dan hanya menjadi Wacana.”

Ini nih yang paling menyedihkan. Sampai frustrasi tiap malam begitu mulu, tapi sampai pagi, eh terjaga.

Apalagi ya? Duh, udah panjang aja. The bottom line is, kalau ada orang terdekat kalian yang ngeluh insomnia, —please! Sodorin tulisan ini. Minta dia ninggalin jejak di kolom komentar. Ok?— plis-plis-plis, jangan nganggap remeh. Beneran deh, jadi insomnia gini gak enak banget-nget-nget! Bantuin kita-kita yang susah tidur ini biar lebih aktif di siang hari. Supaya malam, kita merasa lelah dan pantas untuk tidur lelap dengan mudah, begitu meluk guling sudah, zZzZzZzZzZzZzZz.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s