Tak Berkategori

Serunya Acara “Pulang Dan Berdaya”

Sabtu pagi, tanggal 20 Januari, hujan yang cukup deras membuat saya cap-cip-cup jemari. Berangkat, tidak, berangkat, tidak, hingga di hitungan jemari akhir jawabannya ‘tidak’. 
Terlebih, suhu udara lumayan dingin membuat badan memilih melanjutkan tidur. Betapa nikmatnya selimutan, hangat. Baiklah, saya memutuskan untuk meneruskan tidur. Berharap di pukul sebelas siang, hujan reda diikuti sinar mentari.

Sayangnya saya gak bisa lanjut tidur. Sesak napas mendadak kambuh. Saya menghirup inhaler serbuk kemudian cuci muka dan sarapan. Hingga pukul sebelas hampir setengah dua belas, belum juga ada tanda hujan reda. Begitu pukul satu siang, Ibu lebih dulu berangkat. Meski masih gerimis. Ibu berpesan, saya tidak perlu ikut hadir.

Saya menghirup inhaler untuk yang ketiga kalinya seusai makan siang. Nyanyian Hanuman Chalisa dari ponsel mengejutkan saya. Ibu menelepon. “Geg Tha, ayo datang. Sudah galang (terang) cuacanya.”

Tuh kan, saya bilang juga apa?

Feeling mengatakan bahwa akan rugi rasanya jika saya tidak hadir. Saya langsung berganti pakaian, memakai baju biru etnik flower hasil jahit sendiri.

Sampai di Rumah Berdaya, saya disambut aroma pisang goreng bertabur meses dan segelas air mineral. Saya duduk di kursi paling depan. Diseret sama Pak Dewa dan Bu Jro Sari. Teman Ibu dari Lala Studio yang diundang oleh Pak Nyoman. Kak Juli, Bu Jro Wilis, Bu Prahmi juga hadir disana.

Begitu pukul tiga sore, acara diawali dengan Tour Gallery Rumah Berdaya. Memamerkan hasil karya para ODS. Beberapa diantaranya yaitu lukisan, video dari laptop mungil yang memutar rangkuman kegiatan Rumah Berdaya, bokor daur ulang, sabun cuci tangan, dupa, baju kaos, tote bag, dan lain sebagainya.

Sambil menunggu para tamu undangan yang silih berganti melihat karya para ODS (Orang Dengan Skizofrenia), kami dihibur dengan senandung lagu yang diciptakan dan dinyanyikan langsung oleh Pak Gus Moyo.

Kemudian Bu Aling sebagai MC (yang juga Relawan Rumah Berdaya) memulai acara. Tahu saja kalau rata-rata tamu undangan yang hadir hampir sebagian besar hitung jari. Akan hadir atau tidak. Tapi syukurlah, ketika waktunya acara dilaksanakan, cuaca cukup bersahabat.

Acara juga diawali dengan prakata oleh Pak Yohanes selaku Psikolog dan mewakili KPSI Simpul Bali, Pak Dokter Rai selaku Psikiater / moderator, dan Pak Nyoman Sudiasa yang mengetuai Rumah Berdaya.


Acara dilanjutkan dengan Mars Rumah Berdaya oleh para volunteer dan kawan-kawan ODS. Lagu bahkan sampai diulang dua kali, dan yang membuat saya terpukau, lirik lagu dirangkai dari kumpulan kalimat. Coba deh, teman-teman pembaca sekalian bayangkan, dari banyak para ODS, mereka menyumbang masing-masing satu kalimat kemudian digabung. Uniknya, nyambung dong ya ternyata. Kreatif en wow banget! Saya sangat menikmati petikan dan genjrengan gitar yang dimainkan oleh Kak Oji sebagai pengiring lagu.
Acara masih berlanjut dengan bincang sore yang dibawakan oleh Pak Dokter Rai. Narasumbernya adalah Pak Angga Wijaya selaku alumni Rumah Berdaya, Pak Nanoq Da Kansas yang merupakan pendiri Kertas Budaya, dan Pak Abu Bakar yang juga seorang seniman.
Topik yang dibahas mengenai stigma Skizofrenia. Dan saya merasa beruntung, ya, seperti yang saya tulis diawal. Rasanya saya akan menyesal bila melewati acara kece satu ini.
Sebelumnya, saya mohon maaf, saya sebenarnya bawa kamera saku. Tapi hingga akhir acara saya tidak sempat memotret atau memvideokannya. Saking menikmati acara, saya juga tidak sempat mencatat poin penting dari acara ini.
Secara keseluruhan, saya benar-benar tidak menyesal hadir disini. Saya sangat sependapat dengan Pak Nanoq dan Pak Abu Bakar.
Secara garis besar, saya menyimpulkannya begini:
Benar jika dari kacamata kedokteran, Skizofrenia adalah gangguan jiwa. Tapi kok ya, selama ini saya gak setuju jawaban itu. Pun saya kurang sreg dengan info mengenai skizofrenia di laman google.
Why?

Ya, gak bisa dipukul rata dong ya. Pengidap (maaf, saya lebih nyaman pakai kata pengidap ketimbang penderita. Karena ya emang mereka sesungguhnya gak ‘semenderita’ itu) Skizofrenia memang butuh terapi ke dokter. Tapi jauh lebih penting adalah bagaimana keluarga menerima kondisi. Bukan menerima dalam artian hanya diterapi obat lalu yasudah, tapi didukung dengan terapi diluar obat kepada para ODS agar bisa memenejeri diri saat mereka merasa tidak nyaman dengan kondisi pikirannya.
Beruntunglah di Rumah Berdaya ini, berkat perjuangan Almarhumah Bu Komang Ayu Septarini, tercipta wadah seni dimana para ODS bisa berkumpul dan menumpahkan rasa.
Contohnya, Pak Angga Wijaya yang sangat beruntung sudah menemukan passionnya di bidang sastra yaitu membuat puisi. Pak Angga merasa menulis puisi merupakan sebuah terapi dan katarsis.
Hal yang diungkap oleh Pak Nanoq juga gak jauh mengenai dunia menulis. Mengapa harus menulis?

Ya, karena melalui menulis kita bisa mengungkapkan perasaan yang mungkin orang gak mengerti. Begitu juga, saya setuju, menulis adalah cara berekspresi, cara menumpahkan beban dan saat begitu semua tertuang di kata-kata, ada kelegaan yang tak tergambarkan. Terlebih bila banyak yang mengapresiasi.
Berlanjut juga dengan Pak Abu Bakar yang bertanya kepada para hadirin. “Siapa? Siapa di dunia ini yang tidak gila? Perempuan gila kecantikan, rela sakit hanya demi penampilan dan supaya dapat pengakuan ‘cantik’, para penjabat yang gila kekuasaan, ada yang gila harta, gila pernak-pernik duniawi dan masih banyak contoh lainnya yang tidak perlu saya sebutkan, semua sudah pasti pada tahu.”
Pak Abu Bakar juga memaparkan kisah-kisah para seniman yang karya-karyanya dibuat saat kondisi trance. Ibaratnya perlu ‘sakau’ untuk sebuah karya. Ada juga yang butuh minuman keras untuk sebuah lukisan. Butuh ke’gila’an tersendiri agar bisa menerjemahkan pikiran ke media, entah itu berupa tulisan, lukisan dan lainnya. Lalu para seniman akan merasa bahagia ketika segala pemikirannya sudah tumpah. Apresiasi itu bonus.

Dari diskusi santai ini, saya lope-lope banget sama Pak Angga, Pak Nanoq dan Pak Abu Bakar. Para ODS memang perlu terapi obat, tapi diimbangi juga dengan pemberdayaan. Mereka butuh diarahkan agar menemukan dimana ‘kelebihan’ mereka bisa dicurahkan. Menemukan passion dalam diri. Mengembangkan kemampuan-kemampuan yang terpendam.

Bagi saya pribadi, sebenarnya menemukan hobi atau minat dalam diri itu cukup tricky. Contohnya saya yang bisa menulis, bisa melukis, desain grafis, bisa jahit baju, bermain musik, dan lainnya itu adalah otodidak via internet. Sampai di umur 24 tahun ini, saya belum bisa mematangkan diri akan fokus dititik mana? Ada kondisi dimana saya merasa klop di suatu minat tapi kendala fisik yang lemah. Saya masih sedang mencari jati diri.

Para ODS di Rumah Berdaya difasilitasi dengan berbagai keterampilan. Beberapa diantaranya ada yang mengatakan mereka sekolah, ada juga yang mengatakan mereka bekerja, ada juga yang mengatakan mereka bersenang-senang untuk sekedar berbagi cerita.
Acara dilanjutkan dengan baca puisi oleh para warga Rumah berdaya dan beberapa rekan penyair-nya Pak Angga. Sayang, saya gak dapat kesempatan membacanya dihadapan para hadirin. Oh iya, acara ini juga sekaligus launching buku “Catatan Pulang” karya Angga Wijaya. Untuk para pembaca yang penasaran dengan puisinya, nanti akan saya buat dipostingan terpisah, khusus membahas bukunya.
Acara berikutnya juga ada musikalisasi puisi. Pak Angga membaca puisi karyanya diiringi petikan gitar. Duh, rasanya hanyut-hanyut gimana gitu.
Tapi ada satu judul puisi yang saya suka. Cukup mewakili hati dan perasaan saya. Yaitu, sebagai berikut:

 

INSOMNIA

Oleh : Angga Wijaya.
Mengantuk

Tak jua tidur

Meski obat

Telah kutelan
Jam berdetak

Detik bergerak

Sepi menjadi

Puisi
Menunggu pagi

Bekerja lagi

Mata merah

Kurang darah

Akhir acara ditutup dengan mini giveaway berupa bahasa isyarat. Oh My God, saya bahkan hampir lupa menceritakannya.

Jadi sebelum acara dimulai, ada sign language, yang sebenarnya bagi saya sudah gak asing lagi. Karena saya memang punya beberapa versi. Dan asique-nya, versi Bu Aling ini lebih mudah diingat. Saya bahkan sampai sempat nostalgiaan mendadak. Mengenang masa SMP yang suka rahasia-rahasiaan bareng sahabat. Kalau gak pakai bahasa isyarat, ya diobrolkan keras-keras pakai kata tambahan ‘ga’ atau ‘da’ di akhir kata. Macam begini : ‘KAda MUdu KEde CEde BAda NGEteD!’ atau ‘KAga MUgu BIgi SAga SEge LOgoW GAdaK SIgiH? (untuk memahami bahasa planet ini, cukup baca huruf kapitalnya saja). ‘4L4Y’ jaman dulu gitu banget yaks!

Pastinya, selamat untuk Pak Angga Wijaya atas launching buku ‘CATATAN PULANG’-nya. Semoga karya ini makin meluas dan bisa dinikmati banyak orang. Pun diapresiasi dari berbagai pihak dan tentunya Pak Angga bisa menelurkan karya yang lebih luar biasa lagi.
Saya sangat senang bisa hadir di acara “Pulang dan Berdaya” yang diselenggarai oleh Rumah Berdaya. Saya menemukan orang-orang baik, kekeluargaan yang hangat, sapaan, perkenalan dan tentunya orang-orang yang sepemikiran dengan saya.
Acara ini dimata saya cukup sukses dan lancar jaya, saya pulang ke rumah dengan membawa pengetahuan yang mungkin tidak saya temui diluar sana.
. . . . .

Belum juga selesai loading penyimpanan draft ini, Ibu nyeletuk. “Geg Tha, kapan nyusul?”

“Aduh, Bu, Geg Tha kan belum punya pacar. Mana bisa nikah, Bu?” Jawab saya berpura-pura tidak paham.

Denpasar, 21 Januari 2018

06.15 wita

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s