Tak Berkategori

Ketika Ingin Bunuh Diri

Anonymous (AM) : “Rasanya pengen mati aja. Pengen bunuh diri.”

Aku : “Sama. Tos kita!”

AM : “Emang kamu kenapa mau bunuh diri?”

Aku : “Gara-gara kamulah. Kamu nebarin energi negatifmu. Otomatis energi negatifku menarik energi negatifmu juga.”

AM : “Kok?”

Aku : “Ya iyalah! Kamu pikir cuma kamu yang stress? Banyak orang di dunia ini juga punya masalah. Tergantung di-bisa atau gak-nya dalam mengatasi keruwetan hidup.”

AM : “Kamu sendiri, gimana ngatasinnya?”

Aku : “Ya mikir, kalau bunuh diri emang setelahnya kelar gitu aja? Helow, dipikir kalau mati bundir habis perkara? Apa yang mau disampaikan ke Tuhan? DIA mempercayakan kita dengan sebuah beban. Tuhan memilih kita, karena Tuhan yakin kita mampu melewatinya. Tuhan percaya kita sanggup menghadapinya. Ketika kita ambil jalan pintas, Tuhan pasti kecewa.”

AM : “Terus?”

Aku : “Inget juga mereka yang ‘tak kasat mata’ entah karena kecelakaan atau teraniaya hingga tewas ataupun sakit berkepanjangan tapi enggan berobat (katakanlah belum waktunya berpulang), juga yang dengan sengaja menyakiti diri, mereka tidak punya rumah disana. Mereka terlunta-lunta. Tidak benar-benar berpulang.”

AM : “Hmp, gitu ya? Masa sih?”

Aku : “Belum kelar gue ngomong. Nah, kalau kita disini, kita merasa putus asa. Masih punya keluarga, teman, sahabat. Kalau sudah empet banget dan gak punya sesiapa, ya kita bisa minta bantuan ke psikolog atau ke psikiater.”

AM : “Ngapain ke psikiater? Gue kan gak gila?”

Aku : “So, harus gitu nunggu kita gila beneran dulu, baru ke psikiater? Yang benar aja kali. Sebel deh sama stigma yang bilang ke psikiater itu artinya gila. Gila adalah ketika sadar / sudah tahu butuh bantuan (dokter) tapi gak segera cari pertolongan. Eh, malah curhat sama orang yang entah bisa dipercaya atau enggak. Ketika rahasia (curahan hati) kita terbongkar, makin kacaulah hidup.”

AM : “Kalau udah buntu gimana?”

Aku : “Berkelana. Bawa makanan dan air mineral beberapa bungkus dari rumah. Kalau ketemu pemulung, bagikan. Tapi kalau males ribet, yang penting punya sedikit uang. Belanja di dagang asongan yang sepi pembeli atau sengajain beli koran di loper koran yang ngaso-ngaso dijalanan. Bisa juga membeli sesuatu dari orang-orang yang semangat berkarya tapi gak ada yang menghargai kreativitasnya.”

AM : “Biar apa?”

Aku : “Kalau ndak dipraktekin, kamu gak tau rasanya bakal gimana?”

AM : “Kalau gak berasa yang gimana-gimana, gimana dong?”

Aku : “Ya itu berarti kamu gak punya hati. Perasaanmu itu sudah mati. Kamu sesungguhnya gak semenyedihkan itu, bukan?”

AM : “Kalau tidak mempan juga?”

Aku : “Ya sudah, didepanmu ada apa? Pisau? Racun? Silet? Obat terlarang? Tali gantung?”

AM : “Lho, tadi katanya…”

Aku : “Ya, kalau sudah gak tahan, pasti barang-barang itu menggoda banget kan, ya? Iya apa iya? Pas perasaan ‘ingin’ itu merajuk hati, tatap saja lalu bergumamlah. “Ya, aku akan bunuh diri, tapi nanti”.”

AM : “Hah?! Serius?”

Aku : “Yha! Tapi nanti. Nantinya itu yaaa, entah kapan. Ingat ya, nanti. Nanti, nanti, dan nanti. Pokoknya nanti. Sampai perasaan kita membaik. Atau, sampai kita bisa menertawakan kelakuan dan pemikiran pendek nan aneh itu.”

AM : “Akan begitu terus?”

Aku : “Tergantung dari kita, perasaan negatif, pikiran yang gak terkontrol. Hingga kita menemukan kembali gairah hidup, hingga punya alasan untuk tetap bertahan, atau merasa kita terberkati. Tentunya, merasa bunuh diri itu bukan pilihan.”

AM : “Kayaknya cara ini teorinya mudah, prakteknya gimana ya? Cara lain ada gak sih?”

Aku : “Ada cara terakhir. Teknik tingkat tinggi. Coba jangan makan, jangan minum total tiga hari penuh. Tapi ada catatan, dengan kesadaran sepenuhnya.”

AM : “Sama dengan cari mati. Mati pelan-pelan itu. Mending bundir, sakit sekali, yaudah.”

Aku : “Pemikiranmu belum terbuka itu. Aku juga belum selesai bicara. Ya jangan makan, jangan minum selama tiga hari. Puasa total-totalan, totalitas berpuasa sambil mengingat-ingat yang kita miliki sekarang. Eh, jangan bayangin sesuatu yang besar lho ya, yang mudah saja. Napas ini lho misalnya, kita gak ngeluarin sepeser untuk membayarnya. Gak usah nyari contoh jauh, ada orang yang buat napas saja bergantung inhaler. Itupun napas masih ngap-ngapan. Capek dikit, ya ngos-ngosan. Hirup debu polusi jadi ngik-ngik-ngik, pas panik cari obat aja, yang ada napas makin gak terkendali.”

AM : “Hmp…”

Aku : “Ada banyak cara untuk mengatasi sebuah permasalahan. Hidup ini adil. Aku merasa kurang ini, kamu merasa kurang itu, yang lain ngeluh ina, inu, anu, eh aaanii. Ya, jatuhnya tetap adil dong ya, secara semuanya sama rata dengan ketidakadilan yang dirasa.”

AM : “Terus?”

Aku : “Tetap jalani hidup ini, melakukan yang terbaik. Kesedihan hari ini, bisa saja jadi bahagia, esok hari. (Udah, bacanya biasa aja, jangan sambil nyanyi).”

Awali dengan senyum, jangan lupa bahagia, hari ini.

*) Tulisan yang ke-draft dari tahun 2016. Dilanjut pas tahun 2017. Sekarang direvisi, lalu posting.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s