Mau Cerita Saja

Ibu

Malam hampir larut, mata masih enggan terpejam. Ponsel nokia e63 jadul yang menemani sudah memutar musik instrumental terakhir dalam playlist. Terhitung nyaris tanggal 24 Juni. Hari spesialnya dua orang yang sangat berarti dalam hidup saya.

Ibu tertidur tepat disebelah kanan saya. Sesekali ia terbangun, mengusap lengan, berharap perasaan saya tidak kacau.

“Jangan ngeluh, Sayang. Susah tidur memang tidak mengenakkan. Tapi kalau ditambah ngeluh, akan semakin berat,” pesannya beberapa waktu lalu.

Sesaat, bosan membuat saya memilih untuk memainkan ponsel. Membaca beberapa draft tulisan. Padahal mata sudah terasa kering karena lelah.

Saya membuka hampir semua tulisan di sebuah folder yang berisi hal-hal random, hingga menemukan sebuah lagu yang sudah lama terunduh. Kemudian, memutuskan untuk menekan tombol play.

Alunan musik dengan tingkat suara sayup-sayup cukup memecah hening ditelinga, saya menikmati lagu sembari terpejam.

~…Tiada doa yang lebih ampuh

Selain doa yang engkau

panjatkan…~

Ya, begitulah Ibu. Saat mengetahui putri kesayangannya mengidap penyakit serius, ia menutup kedua telinganya. Hanya cukup mendengar apa-apa yang harus diperjuangkan, tidak peduli vonis lainnya yang menyusul. Dalam doa, ia bertekad harus kuat. Karena jika ia sendiri tak tangguh, bagaimana membesarkan putri kecilnya ini?

Satu hal yang ia khawatirkan, takut bila suatu hari menerima pertanyaan, mengapa diri saya berbeda. Apa jawaban yang akan diberikannya?

~…Ruang dan waktu selalu tersedia

Bagi diriku belahan

hatimu…~

Ibu dimata saya, ya teman, ya sahabat, ya saudara, dan ya kakak. Ibu selalu bisa memposisikan diri sebagai sosok yang saya butuhkan. Ibu selalu membuat hari-hari saya berwarna, tetap ceria apapun rasa yang ditawarkan hari.

~…Kasih yang selalu engkau tebarkan

Bersemi tanpa

bantuan musim…~

Kadang saya berpikir, apa ya resep Ibu tetap waras 24 jam / 7 hari, totalitas di rumah menjaga saya. Terutama saat saya masih kecil yang sering rawat inap sampai sebulanan. Sekalinya ranap seminggu, eh di rumah sehari besoknya opname lagi. Bagaimana cara Ibu membunuh rasa jenuh bolak-balik ke rumah sakit. Antre lama, belum lagi ditambah buku diagnosa yang sering hilang. Terkadang Ibu jatuh sakit, karena kecapekan. Begitu juga saat pulang dari rumah sakit langsung tidur sehingga Ibu lupa makan.

~…Kau hantar aku terlahir di dunia

Oh, hangat belaian

berbalut cintamu

…~

Problematika ya begitulah, Ibu selalu membisikkan kata yang tidak pernah saya mengerti. Tapi entah mengapa sejak kecil, saya bisa memahami perasaannya.

~…Ibu kau malaikat hidupku

Menjaga sejak langkah

kecilku…~

Entah, bagaimana nasib saya jika lahir ditempat, keadaan, dan kondisi yang sama, namun bukan bersama IBU.

~…Menyingkap tabir lara hati

Temani dalam sedu-sedanku…~

Detik ini, saya merasa berada di titik terendah. Banyak rangkaian peristiwa traumatis bertubi-tubi yang membuat saya terguncang. Siapa saya sesungguhnya?

~…Ooh, apabila diriku belum

mampu penuhi bahagia hatimu

Ijinkan aku berterima

kasih

Kusenandungkan dalam nada laguku…~

Selamat Ulang Tahun, Ibu. Hanya doa terbaik untuk Ibu. Terima kasih atas segalanya. Maaf Geg Tha belum bisa jadi apa yang Ibu inginkan. Sekalipun Ibu tidak pernah menuntut, tapi sebagai anak —atau semua anak pasti, Geg Tha —juga, ingin mempersembahkan yang terbaik untuk Ibu, dan Bapak.

Denpasar, 23 Juni 2018

23.59 wita.

(Happy Birthday juga untuk Mika).

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s