Mau Cerita Saja

Euphoria Hampa

Orang bilang, Sweet Seventeen adalah puncak kebagiaan sebagai seorang anak. Fase memulai lembaran baru yang tidak lagi disandang sebagai anak-anak sekolahan yang tugas terberatnya adalah PR.

Berani berekspresi, mencari jati diri, memilih apa yang dikehendaki dan of course, mulai merasakan jatuh cinta. Masa paling menyenangkan.

Saya bersorak, menyadari terpasang sebuah topi toga dikepala, memakai baju kebaya modif kuning, dan rok sepanjang lutut motif batik mega mendung berwarna cokelat.

Berjalan menuju gedung hotel tempat diadakannya wisuda. Namun sorakan bahagia menjadi teriakan panik, menyadari ternyata saya tidak memakai alas kaki. Saya bingung mencari, bagaimana bisa lupa memakai sepatu?

Mencari dan mencari…

Astaga, ya Tuhan, gumam hati ini ketika terbangun menyadari itu hanya mimpi. Bunga tidur yang membuat kesedihan saya semakin berlipat-lipat.

Saya menatap rainbow cake dengan lilin angka 17. Kebahagiaan yang seharusnya lengkap jika hari itu adalah detik-detik saya kelulusan SMK. Terlebih, sekolah SMK menerapkan sistem kelulusan seperti layaknya diwisuda.

Euforia hampa, umur ke tujuh belas yang benar-benar puncak keterpurukan.

Sampai detik ini, tidak tahu mengapa saya masih seperti ‘meratapi’ putus sekolah. Bukan meratapi sih tepatnya, agak bingung apa deskripsi untuk menjelaskannya.

Mungkin benar adanya, yang membuat kita kecewa bukanlah tidak tercapainya apa yang diinginkan, tapi karena besarnya harapan yang dipertaruhkan.
Kalau soal berusaha melupakan, tentu.

Tapi tahukah kalian?

Saya merasa selalu diingatkan melalui bunga tidur. Bisa dibayangkan, saat kalian sudah mengikhlaskan sesuatu, tapi yang sudah diikhlaskan muncul, menyeruak kembali.

Ibarat hujan. Yang berasal dari air di permukaan, lalu menguap, menjadi awan tebal, lalu jatuhlah hujan. Berulang.
Kadang tengah malam saya terbangun, menangis dengan napas yang tak terkendali.

Bermimpi, saya sedang berada depan gerbang sekolah. Saya memakai seragam tapi tidak diizinkan masuk. Saya dihina, didorong sampai badan mencium tanah, kalimat-kalimat tidak pantas meraung ditelinga.

Dilain waktu, saya pernah mendadak terbangun super pagi. Kalau orang bali bilang ‘kepupungan’. Langsung buka lemari seakan telat berangkat sekolah, yang akhirnya insiden itu berakhir dengan saya yang mengurung diri. Merutuk betapa saya bodoh! Tidak berarti.

Pernah juga saya sedang di supermarket, berpapasan dengan anak sekolahan. Awalnya tidak ada yang salah, akan tetapi…

Hari saya rusak seketika, saat menyadari saya mengingat persis detail motif rompi, warna dasi, baju lengan panjang dengan jumlah kancing dipergelangan tangan, tipe rok, kunciran rambut dan identiknya sepatu pantofel.

Bukan persis lagi, tapi memang iya, itu adalah seragam berikut ciri khas sekolah yang dulu pernah saya banggakan.

Malam harinya, saat tidur memori otak menayangkan dengan jelas ucapan dan peristiwa demi peristiwa pahit, sebelum akhirnya saya menandatangani surat bertuliskan pengunduran diri.

Ya, Surat Pengunduran Diri.

Waktu itu saya berpikir mungkin suatu hari nanti, saya butuh raport dan berkas penting lainnya. Juga berpikir bahwa, hanya itu cara menyelesaikan dengan baik-baik (terlebih saat itu saya sudah direndahkan) dan berusaha untuk menutup mulut dengan dalih menjaga nama baik sekolah. Owh!

Saya masih ingat sekali tanggal terakhir meninggalkan jejak kaki di sekolah itu.

Mengingat detail bangku duduk, urutan nama absen huruf R, dan kelas MM berapa.

Mengingat nilai hasil ulangan SWR dan HDW, sekalipun berkas lampiran ulangan sudah lama hilang.

Hingga disuatu hari, Ketua Yayasan Dharma Jati II menawarkan saya bersekolah, melanjutkan melalui Kejar Paket C.

Beliau melihat betapa sorot mata saya yang masih menggebu saat bercerita tentang sekolah.

Akhir Desember 2012, saat sedang di ruang operasi. Saya waktu itu asal bicara. Di ruang operasi, saat tindakan sedang berlangsung, saya terbangun dengan rasa mual hebat. Menjerit kesakitan.

Saya terbangun ketika itu ya, karena baru saja mimpi. Lagi pakai kaos kaki lari-larian ngejar bus sekolah. Jatuh, luka dan tertinggal jauh.

Alih-alih marah karena anestesinya gak mempan. Saya malah berdoa pada Tuhan. Oleh dua orang perawat, mereka membantu saya mengatupkan kedua tangan diantara ruwetnya kabel denyut jantung yang menempel di dada.

“Tuhan, ini rasanya sakit sekali. Tapi sungguh ini tidak mengapa. Tapi, boleh ya nanti saya sekolah?”

Ucapan (doa) yang langsung membuat seisi ruang operasi terhenyak. Mereka tahu usia saya bukan lagi anak sekolahan, meralat kata sekolah jadi mahasiswa kuliahan.

Bahkan salah seorang Dokter ada yang mengira saya sedang butuh donasi untuk biaya kuliah.

Setelah saya berdoa demikian, mendadak napas saya kacau. Selang oksigen, masker nebulizer semua ‘nemplok’ di hidung. Lalu saya tidak sadarkan diri diiringi wajah-wajah panik.

Lupa tepatnya kapan, saya sedang di poliklinik Jantung, menjalani rutinitas check up berkala. Ada seorang Bapak Tua menyapa. Kami saling bertukar cerita. Beliau dengan napas yang dibuat senormal mungkin, berbicara sepatah-duapatah. Menawarkan diri untuk membiayai agar saya bisa kembali bersekolah. Namun tawaran tersebut terpaksa saya tolak halus dengan alasan masih trauma.

Pernah, sedang membeli peralatan tulis dan tas, ada sosok tidak jelas bertanya untuk apa?

Lalu saya jawab, —lebih tepatnya terbangun dari mimpi sambil berkata lirih, “Mau sekolah.”

Bermimpi ingin sekolah, tapi uang hanya recehan.

Bermimpi akan berangkat sekolah, tapi baju masih basah.

Bermimpi sudah di gerbang sekolah tapi cuma bawa diri (tanpa buku, tas, seragam, dll).

Bermimpi sedang di kelas, tapi sepi dan gelap.

Bermimpi sedang diperjalanan ke sekolah tapi lupa arah.

Bermimpi sudah disekolah tapi lagi dihukum tidak boleh mengikuti pelajaran.

Bermimpi siap-siap sekolah tapi baju compang-camping, resleting rok rusak, kancing kemeja lepas.
Bermimpi sudah cantik seragaman, tapi sepatunya (kok) kanan semua.

Bermimpi sedang mengerjakan tugas tapi pulpen macet.

Ah, apalagi ya? Masih banyak rasanya mimpi-mimpi serupa, bagaimana bisa saya lupa.

Dari semuanya itu selalu berakhir saya mengurung diri, makan disuapin, mandi dipaksa, menghabiskan waktu seharian penuh ditempat tidur, dan tidak bersemangat menjalani hari. Itu selama empat tahun, saya sungguh jatuh jleb total. Dihantui seperti itu untuk bangkit rasanya sulit.

Saya juga pernah merasa di fase sadar-gak sadar, beli tas, terus inget beli tas untuk apa?

Untuk sekolah, lalu nangis.

Beli buku, pulpen, spidol, untuk apa?

Untuk sekolah, berakhir sesenggukan.

Beli kotak pensil, padahal gak tau akan dikemanakan, lalu berakhir meluk guling, membanjiri bantal dengan air mata.

Selanjutnya, sesuai doa, saya sekolah di Januari 2013. Tidak tahu bagaimana cerita pastinya, ada saja informasi sampai ke telinga.

Saya langsung buka map dokumen, menyerahkannya pada Ketua PKBM Tunas Bangsa. Saya agak kesal, rapor SMK saya terakhir diisi itu kenaikan ke kelas dua. Padahal saat posisi putus sekolah itu, saya sudah di kelas dua. Rapor pertengahan semester satu pun sudah lewat dua bulan.

Baru menyadari, lembaran itu dicabut paksa. Hilang sudah nilai dan berkas tanda saya menyelesaikan training. Padahal saya mati-matian untuk bisa tetap training. Walau surat training yang sempat tertahan itu ditebus dengan menandatangani surat bahwa sekolah lepas tangan.

Ya, saya training atas nama sendiri dan tanggung jawab orang tua.

Di PKBM atau lebih tepatnya kejar paket C ini, kebetulan tidak ada pilihan. Hanya IPS, jadi SMA ya, bukan SMK. Saya agak greget, satu setengah tahun saya sekolah. Segalanya jungkir balik.

Dulu saat SMK MM (jurusan Multi Media), total saya jarang sekali belajar. Ya mungkin, karena saya sudah merasa MM ini passion. Jadi sekali diterangkan saya bisa. Sekali belajar, langsung nempel diotak. Ulangan belajar pakai Sistem Kebut Sejam, nilai selalu paripurna —walau gak pernah dapat rangking di rapor.

Kalau di IPS, OMG! Saya buta banget sama geografi, gak ngerti-ngerti juga pelajaran hitungan ekonomi, sering hampir ketiduran di pelajaran sosiologi. Ulangan umum, duh! Mata total lirik kanan-lirik kiri atau nyelip contekan di kotak pensil berhiaskan plastik mika. Oh, begini ya rasanya salah jurusan?

Saat saya mengetik tulisan ini, air mata mengiringi kalimat demi kalimat. Dari apa yang saya alami ini, saya jadi ragu saat ada penawaran untuk kuliah dari orang-orang terdekat, sekalipun diantara mereka adalah orang berpengaruh.

Takut… Bagaimana jika kejadian tidak mengenakkan itu terulang lagi? Rasanya saya tak sanggup.

Orang bilang, masa SMK adalah masa menyenangkan. Nyatanya euphoria sweet seventeen saya, hampa. Menjadi tahun-tahun paling terberat.

Bapak sudah jadwalnya pensiun dari kantor. Yang selalu mengkhawatirkan keadaan saya.

Ibu selalu menguatkan hati ini.
Saya yang lemah jadi semakin mudah sakit. Lengkap sudah ketika saya divonis mengidap Jantung Bocor tipe PDA.

Iya, saya lahir dengan Jantung Bocor (sianotik dan VSD), yang kata Dokter tidak memerlukan operasi. Dan diusia ke delapan belas tahun, terdeteksi adanya kebocoran di pembuluh jantung ke paru. Saya menjalani intervensi non bedah yang menjadikan saya Survivor Jantung Bocor.

Sebagai seorang disabilitas Marfan Syndrome dan Skoliosis, saya berusaha tetap menjalani dan menikmati hidup dengan rasa syukur. Melakukan yang terbaik dan berjuang meraih asa.

.

.

.

Denpasar, 5 Mei 2018
17:50 wita

.

*) Gambar diambil dari hasil pencarian google.

Advertisements

2 thoughts on “Euphoria Hampa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s