DIY - Handmade · Jahit Baju

Hitam Putih

—Oh kasihan, aduh kasihan…—
#BAGIAN_KEDUA

“Nanti SMK-nya, Geg Tha ambil jurusan busana aja ya di SMKN****. Supaya Geg Tha gak riweh urusan beli baju, biar gak kebesaran atau kekecilan.”
(REALITA di papan mading: Sekolah ini tidak menerima murid *****. Banting stir. Sama-sama desain, sih. Cuma, jatuhnya lebih sakit. Pedihan mana coba, ditolak secara langsung atau, diterima lalu dibuang/tidak diakui?).

Jadi ceritanya, ini sudah bertahun2 yang lalu. Tapi Tuhan baru izinkan untuk tercapai sekarang, WALAU… (lanjutannya diakhir paragraf aja, yaks!).

Saya lagi kebelet pengen punya baju baru. Ceki-ceki lemari, eh gak bakal diizinin Ibu beli (ralat : buat) baju (ralat : kain) baru. Huh! T_T

Beberapa waktu silam, mungkin sekitar SMP-an gitu, pas masa suka bikin-bikin baju barbie. Saya pernah corat-coret di kertas sambil bengong (berimajinasi :D), eh tergambar aja gitu lukisan maha abstrak. Hingga beberapa tahun belakangan ini, saya menemukan majalah fashion sesuai imajinasi yang tergambar tersebut. Meledaklah dipasaran. (Btw, saya suka sebal, sesuatu yang saya impikan terealisasi saat ‘kebetulan yang sama’ merebak secara memasyarakat bukan kelas atas atau just for show).

Ya, di bali, kebaya kutu baru ini mirip mode kebaya asli bali (CMIIW). Dulu itu, saya kepikiran bikin kebaya bali, tapi bawahannya rok selutut. Banyak yang bilang saya aneh. Bikes deh! Barulah setelah mode yang saya idamkan menyebar luas, mulai bisa merealisasikannya satu-persatu. Bahkan beberapa diantaranya gak saya wujudkan. Sudah hilang selera, meski indomie tetap seleraku. *eh, kamsud?*

Btw, ini no budget, yes! Thankful to Bu AyWin atas kebaya preloved-nya (yang langsung saya eksekusi, dikecilin. Jadi jangan kaget kalau ada yang gak sengaja lihat size baju ini, XL) dan thankfully to Bu Sylvie atas kain kotak-kotaknya. Gara-gara ada garis emas-emasnya ini kok ya saya kepincut, eh taunya diberikan cuma-cuma. Yang secara otomatis memberi kesempatan belajar dan punya rok umbrella, mana ini rok hasil salah ngukur pula. Biasanya mana mampu buang-buang kain. đŸ˜€ Hahaha. Juga sedikit kain kotak-kotak yang gak dipakai Ibu karena kelebihan beli kain. Lumayan untuk variasi (padahal sesungguhnya divariasi karena kainnya gak cukup panjang gegara salah ngukur ituh, maklumlah tukang jahit amateur level abal-abaL #LoL). Eh, ini kebetulan macam apa sih? Bikin terhura banget deh.

Harusnya setelan ini beres dipertengahan april, ya barengan sama setelan brokat+prada hijau. Karena tema baju ini ‘Kartini Bali’. Tapi ya begitulah, saya sibuk sekali. Sangat sibuk. Sibuk tidur, sibuk nghayal, sibuk yang sok disibuk-sibukkan, maka beresnya gak sesuai target.

And so sad, mungkin, ini baju terakhir yang saya jahit.

Btw, karena ini asalnya dari pemberian, jadi no pilihan, yes. Kotak-kotak black-grey-white ini di bali identik, yha agak begitulah. Beruntung sih, gak terlalu kentara untuk zaman now yang motif ini mulai dijadikan trendsetter.

(lanjut)…WALAU, setelah setelan ini beres, bingung, mau dipakai kemana? (emot mikir keras).
.
.
.
“Kenapa hitam? Karena putih kini ternodai.”

Denpasar, 10 Mei 2018

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s