#ItaCerita · Mau Cerita Saja

Drama Anak Disabilitas

#LatePost

Yang namanya manusia itu ya, kadang mood-nya up and down. Ada gitu kejadian yang membuat saya jengkel setengah mati, apalagi kalau kebetulan ada disekitar orang menyebalkan. Kalau suasana hati sedang baik, ya masih bisa senyum-senyum atau acuh-tak acuh. Kalau sedang kesal, jadilah gak bisa rem yang namanya spontanitas (kelepasan).

Kejadian Pertama

Sebut saja A dan B. Si A meminta saya mengangkat kursi yang kebetulan berada tidak jauh dari tempat saya duduk. Lalu si B yang mendengar permintaan si A dengan entengnya menyahut, “Mana bisa dia (yang dimaksud adalah saya) angkat kursi. Paling nanti dia ikut jatuh berbarengan sama kursinya.” Si B mengambil kursi sesuai permintaan Si A sembari tertawa tanpa dosa.
Hingga suatu hari, sedang ada acara dirumah. Dan kebetulan saya lewat beranda untuk sekedar tahu sejauh mana persiapannya. Suasana sepi, hanya ada saya juga Si B. Kemudian dari kejauhan Si B berteriak memanggil saya. “Kursinya yang itu bawa sini saja, biar gak nantinya menghadang jalan,” ujarnya enteng.
Saya melihat kursi yang dimaksud. Ada setumpuk berisi tiga kursi. Jika yang menyuruh bukan Si B, pasti saya sanggupi permintaannya. Namun…
“Mana bisa bawa tiga kursi sekaligus? Inget gak kemarin pernah bilang, satu kursi saja nanti saya bisa ikut jatuh barengan kursi,” sahut saya sebal, membalikkan apa yang pernah diucapkannya.

Catatan : Dari kejadian ini, entah mengapa, saya selalu suka membolak-balikkan sesuatu yang menyangkut tentang meremehkan diri saya.

Kejadian Kedua

Ketika itu, saya masih SMP. Kondisi, saya menggunakan kursi roda ke sekolah. Seorang teman nyeletuk, “Kamu tuh enak ya, gak perlu ikut olah raga, gak usah capek-capek piket, gak jadi yang riweh kesana-kemari urusan kerja kelompok.”

“Oh, kamu mau jadi saya? Kasihan nanti kamu. Gak bisa lari, gak bisa lompat, butuh apa-apa kudu dibantu. Hidup dengan detak jantung memekak telinga dan paru-paru yang gak berfungsi penuh, hidup dengan napas ngap-ngap-an —cuma sampai 40%. Dan terakhir, kamu ngerjain tugas kelompok yang seabrek-abreknya itu sendirian. Yakin, kamu mampu?” Begitulah jawaban saya waktu itu.

Catatan : Kadang orang berpikir pendek, melihat satu sisi yang menguntungkan tanpa mau tahu bagaimana dengan sisi lain. Padahal menjadi diri-sendiri jauh lebih membahagiakan. Betul, kan? Iya, apa iya?

Kejadian Ketiga

Posisi saya lagi di rumah sakit, tepatnya di meja administrasi. Hari itu kebetulan ada seorang perempuan muda yang terlihat bertugas membantu dalam pengisian formulir.
Nah, karena saya sudah terbiasa bolak-balik ke rumah sakit, sudah hafal diluar kepala mengenai apa yang harus saya urus. Sehingga saya abai dengan perempuan tersebut dan tak peduli orang-orang hilir mudik yang masih kebingungan dalam pengisian formulir. Entah, dia mungkin ‘terpukau’ dengan saya yang mudah menyelesaikan segalanya tanpa bantuan. Begitu saya menyelesaikan pengisian formulir dan menambahkan berkas yang diperlukan, tiba-tiba dia mendekati saya, bertanya, “Adik, pintar sekali. SD kelas berapa ya?”
Saya langsung yang kaget bukan main. Sempat diam beberapa detik. Pertanyaannya itu lho, kok ya ajaib sekali. Bertanya sih bertanya, tapi kenapa yakin sekali?
“Saya sudah dua puluh tahun, Mbak,” jawab saya sembari meneliti seragamnya. Ternyata ia siswi salah satu SMK jurusan akutansi di Denpasar, yang dengan mudah saya taksir umurnya masih berkisar enam belas tahun. Ia tampak tertunduk malu atas kesalahannya.
“Mbak, lain kali kalau sapa orang yang sopan, ya? Gak ada ruginya lho, kalau kita menghormati orang yang sekalipun usianya lebih muda dari Mbak. Seperti saya yang memanggil Anda dengan sebutan ‘Mbak’. Bukan karena mentang-mentang Mbak secara fisik tinggi, sedangkan saya agak pendek —plus wajah yang terlihat baby face. Itu karena saya menghormati Mbak beserta pekerjaan yang sedang Mbak jalankan. Semoga sukses ya Mbak, training-nya,” sahut saya sembari segera meninggalkan meja administrasi menuju loket.
Saya berbalik diiringi bulir air mata. Bukan, bukan saya bersedih dengan ucapannya. Saya justru teringat moment pahit yang juga pernah saya lewati. Saya pernah training, menyelesaikan laporan, saya bersekolah di sekolah kejuruan desain. Namun berakhir putus sekolah. Diskriminasi, itulah yang saya alami.

Kejadian Keempat

Yha, sebagaimana disabilitas yang terlihat istimewa. Sering dipelototin orang macam makhluk alien yang datang dari antah-berantah. Bukan sekali-dua kali, namun sering kali. Dan, lucunya kok ya mereka selalu bernasib sama.
Ada saja yang keasyikan melototin saya. Sambil berjalan, kepalanya menoleh, matanya yang ‘stay’ memandang kearah saya dengan tatapan gak mengenakkan. Sehingga jadi wajar kali ya, entah itu berakhir nabrak tiang listrik, nabrak pintu, nabrak orang berpapasan, nabrak pilar, meja, kursi, dll.
Kalau nabrak tiang listrik, pilar, orang berpapasan, atau pintu sih mungkin gak seberapa sakitnya. Ya pastinya jadi malu. Kalau yang sedikit tidak beruntung, jadi nabrak meja atau kursi. Terantuk perut itu kadang sampai salivanya muncrat. Nabrak kursi yang ada sandaran juga bikin anu jadi, eh! Juga kalau kursinya tanpa sandaran, lutut yang terbentur itu keseringan membuat mereka butuh duduk sebentar. Dari lutut ngilu sampai lumpuh beberapa detik.
Saya yang tadinya berusaha untuk mengatur emosi dan perasaan, juga berpura-pura untuk tidak melihat tatapan mata mereka. Namun setelah apa yang terjadi selanjutnya itu, membuat saya terpaksa berpaling kearah lain sembari tertawa terbahak-bahak —saking gak tahan.

Catatan : Jika kalian kebetulan bertemu dengan seorang disabilitas, please, jangan menatapnya sekentara itu. Kalau kalian ingin tahu, sapalah kami. Kami akan dengan senang hati menjelaskan pertanyaan dari rasa penasaran kalian.

Kejadian Kelima

Waktu itu lagi di sebuah kantor, lupa tepatnya kantor apa. Usia saya masih sekitar delapan tahun, masih khas kekanak-kanakan. Bapak mengizinkan saya mengisi lampiran yang khusus untuk saya. Di kertas itu, ada pertanyaan-pertanyaan biodata pada umumnya seperti Nama, TTL, Alamat, dan lain sebagainya. Hingga sampai dipertanyaan ‘Penyakit / Kelainan yang diderita’ saya biarkan kosong.
Saat Bapak menyerahkan lampiran yang saya tulis, seorang pegawai memperhatikan saya lalu memberitahu Bapak mengenai isian punya saya yang masih kosong.
“Saya sakit dan ada kelainan, tapi saya tidak menderita, Pak. Makanya tidak saya isi,” jawab saya lugu menatap pegawai tersebut. Ia terlihat sedikit bingung, saya mencoba mengerti. Akhirnya, saya meminta kembali lampiran itu dan mencoret kata ‘Penyakit / Kelainan yang diderita’ menjadi ‘Sakit / Keterbatasan yang diidap’. Barulah saya mengisi kekosongan tersebut.
Ketika remaja, saya mengenal istilah disabilitas atau difabel. Setiap kali harus mengisi biodata kemudian menemukan pertanyaan seperti yang saya jabarkan diatas, saya gak pernah ragu untuk mencoretnya. Mengoreksi kalimat pertanyaan dengan kata ‘Disabilitas yang dimiliki’ atau ‘Kebutuhan khusus yang diidap’.

Masih banyak sih kejadian-kejadian lainnya atau dari kelima kejadian itu, ada saja salah satunya terjadi berulang kali. Ada juga yang justru terbawa hingga saya sedewasa ini. Alih-alih tersinggung, saya lebih memilih tersungging.

Denpasar, 8 Mei 2018

Advertisements

2 thoughts on “Drama Anak Disabilitas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s