Huh!

Ahenkara

Kau bukanlah kebenaran Dan, kau tidak pernah punya benar Kau hanya mementingkan dirimu Mementingkan egomu Amarahmu Melejitkan nada tinggi Sumpah serapah Tak berguna Kau, bahkan kau! Tak berdaya kini Maumu Apa lagi, maumu? Kau kan sulit Sulit mencapai kematian Karena kau telah habis Habis oleh kebencianmu Bebasmu yang di hanya Keikhlasan terluka Kami muak Katakan,… Continue reading Ahenkara

Advertisements
Huh!

Bagai Setan

Tiada senyum Kali kutertawa Wajah itu memerah Tubuhnya ringkih Berambisi raja Miliknya hanya amarah Ia 'kan tertawa Bilaku menderita Tak pernah berani Kutatap matanya Tatapan tajam Menusuk Seakan ingin mencekikku Maret 2018

Mau Cerita Saja

Mengapaku Selalu, Menahan Rasa

Saat ia bahagia, senyum itu tidak bersamaku. Saat ia ingin didengar, kepedihan itu tumpah dipundakku. Saat ia tertawa, enggan tentang keberadaanku. Saat ia butuh pertolongan, tangannya berusaha keras menggapaiku. Saat ia penuh keberuntungan, peduli setan denganku. Saat ia dalam kesulitan tak bisa berkutik, air matanya berlutut di kakiku. Terima kasih, setidaknya aku merasa berguna.

Mau Cerita Saja

Mengapa???

Disakiti secara fisik or verbal, kayaknya sudah ngerasain banget. Dan ternyata itu belum ada apa-apanya. Tapi kalau sudah meracuni via ininih, itu butuh manajemen gimana caranya gak terhasut. Duh, dua tahun berlalu... Rasanya ibarat bekas paku yang menancap di tembok, meninggalkan jejak lubang. Sakit tapi tidak terlihat, tidak juga berdarah. Kadang sampai mikir, ngapain coba… Continue reading Mengapa???

Tak Berkategori

Masih Sama

Rasanya bosan, jenuh, tapi apa daya tidak punya pilihan. Ritme yang terus begini-begini saja, entah kapan ada penyelesaian. Problematika yang bagai radio rusak. Ditambah lagi sorot mata menelisik akan kemana. Mulut-mulut melebihi pedasnya cabai. Bagaimanapun gerak-gerik raga, tetap akan dinilainya selalu salah. Gelap sekali, seakan cahaya matahari dan kerlip bintang itu semu. Siapa, katakan padaku… Continue reading Masih Sama

Huh!

Berakhir Hening

Di suatu sore yang cerah ceria, kami berkumpul. Ngobrol ngalur kidul, dari si anu yang selingkuh, si anu yang kok ya terseret cinta buta, dan blablabla ngegosip maha tidak penting. Obrolan berhenti ketika dari kejauhan, dia dengan over acting menangis tersedu-sedu. Duduk lemas di lantai, mengaku kehilangan sesuatu. Beberapa orang acuh tak acuh membantunya. "Dia… Continue reading Berakhir Hening