Huh!

Berakhir Hening

Di suatu sore yang cerah ceria, kami berkumpul. Ngobrol ngalur kidul, dari si anu yang selingkuh, si anu yang kok ya terseret cinta buta, dan blablabla ngegosip maha tidak penting. Obrolan berhenti ketika dari kejauhan, dia dengan over acting menangis tersedu-sedu. Duduk lemas di lantai, mengaku kehilangan sesuatu. Beberapa orang acuh tak acuh membantunya.

“Dia kenapa itu, Aria?” Tanya Lilu yang baru pertama menyaksikan pemandangan ini.

“Jangan dipikirkan, sudah biasa,” jawab Aria enteng.

“Masa begitu, terus gimana?” Sambung Ayik dengan rasa penasaran.

“Nanti reda sendiri.” Sahut Aria lagi.

Aku menoleh kearah dia sembari menghela napas. Aria yang menyadari pandangan mataku berusaha tertawa kencang, mengalihkan perhatian.

Tria yang bersandar dilengan Aria langsung terkejut, “Aria, apa yang lucu?”

“Tertawa saja, Tria!” Jawaban yang membuat sekumpulan terhenyak.

“Kok diam, ayolah tertawa.” Aria mengomandoi kami semua.

Tria tertawa mendahului, diikuti tawa Aria yang semakin menjadi-jadi. Lilu yang bingung mulai ikut tertawa. Ayik tidak mengerti hanya meramaikan tawa diikuti Yaya, dan Ade. Aku dan Mima demi rasa kebersamaan terpaksa ikut tertawa. Kami tertawa, menertawai tawa, atau menertawakan orang tertawa tanpa ada suatu kelucuan.

Aku tertawa sebisaku, hingga sesaat kemudian, aku terdiam. Kepalaku sedikit pusing, pandanganku kabur. Aku hampir kehilangan kesadaran.

Tawa Aria terhenti seketika. “Yang, kamu kenapa?” tanyanya padaku.

“Bayangan itu, Aria, bayangan itu menghantuiku.”

“Sayang, kau tidak apa?” tanya Mima yang spontan memelukku. Menepuk kedua pipiku agar aku tidak lupa.

“Tidak, Mima. Tidak apa-apa. Jangan khawatir,” sahutku tegas.

Aria mematung, “Harusnya tadi aku tidak mengajakmu, Yang.”

“Tidak apa, tidak mengapa, jangan merasa bersalah begitu, Aria,” tukasku.

“Aria, aku tahu maksudmu, maksud dari tawa kita tadi. Aku tahu ternyata kita sama-sama sakit. Yaya juga, pun Ade sepertinya sedang berdamai dengan ritme hidup barunya.” Aria mengangguk menyetujui.

Entah bagaimana bermula, semua menoleh mengarah di mana dia duduk menangis tadi.

Sepi. Lalu mata kami saling bertemu, semuanya mengusap tangan dan mengurut tengkuk masing-masing.

Denpasar, 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s