Tak Berkategori

Cermin dan Cerita dari Sisi Lain

Sore kemarin, eh kemarin sore saya jelong-jelong ke rumkit. Oaalllaaaa… Jelong-jelong kok ya ke rumah sakit? Phew!

Saat berjalan menuju koridor utama poliklinik, saya melihat sebuah cermin besar. Jarang sekali rasanya saya menemukan rumah sakit dengan cermin yang lumayan besar. Terlebih posisinya terletak di koridor utama, dimana banyak orang berlalu lalang, tidak hanya Dokter maupun para Perawat.

Awalnya saya mikirnya, ya ampun, jangan-jangan rata-rata yang bertugas di rumah sakit ini pada narsis semua. Biasanya kalau di rumah sakit, cermin adanya di kamar mandi, itupun sebatas kepala hingga dada. Kadang juga cermin ada di masing-masing ruang klinik, itupun letak kaca cermin berada di sudut ruang, yang bukan jangkauan lalu-lalang para pasien.

Tiba-tiba saya tersadar dan teringat satu hal. Dada saya seketika bergemuruh, ada rasa terharu. Mungkin ini cuma hal atau sesuatu kecil dan remeh, tapi bisa jadi membantu ‘mereka’.

Saya tidak tahu pasti, hanya sekedar pengetahuan dari membaca banyak kisah nyata di buku dan berbagai bacaan di internet beserta cerita yang bergulir dari mulut ke mulut.

Mereka yang telah tiada namun merasa masih hidup terkadang melakukan sesuatu seakan-akan mereka masih ada di dunia ini. Walau keanehan sudah dirasa, karena sudah tidak lagi bisa menyapa orang-orang yang ditemuinya seperti biasa.

Kadang mereka sadar sudah meninggal, tapi tidak tahu harus bagaimana. Ada yang terikat, ada yang masih memiliki sesuatu tertinggal atau pesan yang belum tersampaikan, ada juga yang terbawa oleh rasa dendam, amarah atau rasa bersalah.

Mungkin sesaat setelah mereka tiada, mereka bingung dengan keadaan orang sekitarnya yang tidak melihat keberadaannya. Nah, cermin biasanya membantu mereka untuk sadar. Sadar bahwa kini mereka sudah bukan manusia hidup lagi, tapi berupa roh.

Ketika menemukan cermin, mereka tidak akan melihat pantulan dirinya. Saya hanya berharap, cermin dapat menyadarkan mereka, lalu mereka bisa segera berupaya mencari jalan untuk pulang, benar-benar berpulang. Tidak terlunta-lunta atau dimanfaatkan orang tak bertanggung jawab, ataupun lebih buruk lagi tersedot ke dimensi paling bawah.

Untuk kalian yang sudah tiada, saya hanya bisa berharap, semoga kalian menemukan jalan untuk pulang. Lepaskan diri dari keterikatan, meski itu rasanya sulit. Bebaskan sudah segala amarah, dendam, sakit hati, dan semua sesuatu yang belum terselesaikan. Itu tidak berarti lagi saat tak lagi memiliki raga. Berusaha sekuat tenaga mengikhlaskan yang telah terjadi lalu fokus untuk pulang. Kembali kepangkuan atau bersatu dengan Tuhan yang Esa, diwarnai rasa damai.

Tabik.

Denpasar, 12 November 2018

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s