Mau Cerita Saja

Januari (yang) Mewekable

Tahun baru diawali dengan kesibukan, persiapan hari raya Kuningan dan Siwaratri. Semua berjalan lancar, sampai di hari Manis Kuningan, rencananya sih jalan-jalan bareng Ibu. Tapi apa daya, tiba-tiba kondisiku drop, lalu jatuh sakit.

Hari-hari berikutnya, aku merasa sangat sedih. Karena, 10 hari setelah Kuningan, menyusul upacara Piodalan di rumah. Aku jadi gak bisa bantu-bantu Ibu. Kesibukan Ibu jadi dua kali lipat, ya mengurusku yang sedang sakit dan persiapan Odalan.

Saat di hari Piodalan, aku merasa keadaanku mulai membaik. Namun, belum bisa ikut bergabung untuk persembahyangan bersama. Dan yang paling kusedihkan adalah adik dan keponakannku yang cantik-cantik dan lucu-lucu pada ngayang di Merajan. Menarikan kurang lebih dua sampai tiga tarian, diantaranya tari Rejang Dewa, Pendet, dan Condong.

Adikku tercinta dan dua keponakanku tersayang
Dokumentasi oleh Bu Dewi Andisa

Mereka pada pakai kebaya putih dan selendang kuning, kompakan gitu. Karena sakit, aku jadi gak bisa untuk sekedar mem-video-kannnya. Merekamnya untuk kenangan.

Sehari setelah upacara, kondisiku sudah mulai pulih. Tapi tiba-tiba, Ibu bilang badannya badannya terasa lemas. Awalnya kami mengira karena kecapekan. Di hari berikutnya, Ibu demam. Dan, kemudian badannya panas.

Tanggal 18 Januari, waktu itu hari sudah malam. Badan Ibu panas tinggi. Padahal sudah minum obat berulang tiap 4 jam, tapi panasnya tidak juga turun. Ibu juga mengalami diare, yang membuat badannya jadi semakin lemah.

Semakin malam, panas badan Ibu meningkat ke angka 39 derajat celcius. Aku spontan menangis dan memaksa Ibu segera pergi ke rumah sakit.

Semakin malam, semakin pecah tangisku. Tepat pukul 00:12 wita, akhirnya Ibu diantar Bapak ke Rumah Sakit. Itupun setelah berulang kali kudesak. Kukatakan, aku akan berhenti menangis bila Ibu langsung ke RS detik itu juga.

Malam itu, Ibu dan Bapak berjalan kaki menuju UGD RS. Wangaya untuk mendapatkan penanganan. Bapak yang hanya dengan satu matanya yang masih berfungsi, karena mata satunya terkena Glukoma, jadi tidak bisa bawa motor di malam hari.

Beberapa menit setelah Ibu dan Bapak berangkat aku baru ingat, seharusnya Ibu dan Bapak kupesankan ojek online.

Di rumah, aku di kamar sendiri. Menangis dan berdoa, berharap Ibu baik-baik saja.

Ibu sempat mengambil potretnya ditengah riweuhnya perkara infus

Pukul tiga dini hari pagi, aku menelepon Ibu. Kabar Ibu harus menjalani rawat inap membuatku berada diantara rasa lega setidaknya Ibu sudah ditangani oleh Dokter, juga bercampur rasa sedih, itu artinya hari-hariku sementara terlewati tanpa Ibu.

Setelah menelepon Ibu, aku tertidur dengan bayang-bayang seolah Ibu sudah kembali. Berkali-kali aku terbangun, seperti memastikan Ibu ada disebelahku.

Keesokan harinya, aku menelepon Ibu, bertanya kabarnya. Hampir disetiap sambungan telepon, aku gak sanggup untuk menahan air mata. Aku menangis, terus menangis. Pun juga keesokan harinya, aku masih belum bisa berhenti menangis. Rasanya hampa sekali tanpa Ibu di rumah. Mood-ku buruk, aku jadi malas beraktivitas. Tidak nafsu makan, tapi aku makan hanya supaya merasa kenyang saja. Biasanya, ada teman diskusi, teman bercandaan saat adu mulut dan berbeda pendapat, teman untuk bergila-gila, dan teman yang memelukku saat tidur.

Ya ampun, padahal ini sudah berlalu, aku menuliskannya sambil banjir air mata.

Karena Ibu rawat inap di hari sabtu dan minggu, tentu jadwal libur. Sehingga Ibu baru benar-benar dapat pemeriksaan Dokter di hari seninnya.

Kupikir hari senin, Ibu diizinkan pulang oleh Dokter. Karena selama dua hari dirawat, kondisi Ibu sudah membaik. Tapi ternyata belum. Aku makin sedih. Kutelepon Ibu, sembari sesenggukan, kukatakan betapa aku kangen sama Ibu. Aku gak nyangka setelah telepon dariku itu, kondisi Ibu menurun, karena memikirkanku. Aku jadi merasa bersalah.

Ibu meneleponku sesaat kemudian. Dengan nada tegas, Ibu bilang, aku gak boleh lemah. Harus kuat, jangan menangis terus. Karena berpengaruh juga untuknya.

Aku minta maaf dan berjanji tidak akan menangis lagi. Kukatakan pada Ibu, aku akan melakukan aktivitasku seperti biasa.

Sore itu, aku melanjutkan karya rajutanku. Tapi tidak lama, aku memutuskan untuk menyalakan laptop dan mencari-cari sesuatu untuk sekadar menghiburku.

Gambaran dari Desak Sita yang ku re-create

Di malam hari setelah puas menatap laptop, Bapak membelikanku Mie Tek-Tek. Awalnya aku tidak mau, karena aku sedang tidak enak makan. Tapi Bapak memaksaku. Saat aku membuka bungkus mie, wangi mie seketika membuatku berselera. Ternyata rasanya enak dan diluar dugaan, aku jadi merasa sedikit bersemangat. Lalu, aku mengirim pesan singkat ke Ibu, kalau aku sedang makan mie tek-tek yang enaknya gak ketulungan. Tidak lupa juga kuucapkan selamat malam dan selamat tidur.

Status FB-ku yang ditulis sambil mewek. Privasinya sekarang kuubah ‘hanya saya’

Oh iya, tanpa sepengetahuanku, Bapak yang menemaniku tidur selalu bercerita pada Ibu, bahwa aku mengigau hampir sepanjang malam. Aku sama sekali tidak menyadarinya, yang kurasakan berulang kali aku mimpi Ibu sudah di rumah bersamaku, memelukku, menepuk-nepuk hangat pundakku.

Sebenarnya, aku bisa saja menjenguk Ibu. Tapi saat itu kondisiku baru saja pulih dari sakit. Aku merasa belum berani kena angin luar, masih terbatuk-batuk. Sedangkan, Ibu di rawat di salah satu kamar yang berada di lantai tiga. Aku juga gak sanggup jika bertemu Ibu, aku malah gak bisa nahan air mata. Gak bisa berpura-pura untuk kuat.

Keesokan harinya, hari selasa. Aku bangun pukul sepuluh pagi. Bergegas ke kamar mandi. Beberapa menit kemudian, kudengar langkah kaki yang amat kukenali. Ketika aku ingin memanggil, apakah benar itu Bapak? Eh belum sempat bersuara, Bapak menyebut namaku. Memastikan aku ada di dalam kamar mandi. Bapak mengabariku, Ibu sudah diperbolehkan pulang oleh Dokter. Aku merasa senang sekali. Dengan semangat, aku segera makan dan membereskan tempat tidur.

Saat siang, tepat pukul dua belas bersamaan dengan Puja Tri Sandhya, aku sedang meditasi dan berjapa. Tiba-tiba kudengar suara langkah kaki Ibu. Kupikir aku berhalusinasi, kuhentikan berjapaku yang belum usai. Saat membalikkan badan, senang sekali Ibu ada dihadapanku.

Spontan, kuraih baju Ibu. Memastikan aku tidak sedang bermimpi.

“Halo, Geg Tha…,” sapa Ibu sembari tersenyum. Ibu bilang lega rasanya sampai rumah. Gak sumpek lagi seperti di rumah sakit. Aku menanggapi curcol Ibu dengan gelak tawa.

Ibu juga bilang, saat infusnya dilepas, Ibu langsung kabur dari kamar rawat inapnya. Menunggu di lokasi depan gedung B dan meminta Bapak menyelesaikan administrasi secepat mungkin.

Wajah Ibu terlihat segar, seolah tidak sedang sakit. Ibu hanya istirahat sebentar lalu mandi.

Dan, kemudian. . . .

Ibu mengajakku mengganti sprai yang sudah kotor, membereskan kamar yang seperti kapal pecah dan menyapu.

Tentu, awalnya kutolak. Mana tega aku melihat Ibu yang baru pulih, sampai rumah langsung mengerjakan pekerjaan berat. Tapi, Ibu bilang sudah merasa jauh lebih baik setelah sampai rumah. Ibu juga meyakinkanku, bahkan memaksaku untuk bisa diajak kompromi. Aku jadi bingung, namun melihat Ibu merajuk, aku merasa tidak punya pilihan.

Sore itu juga, aku bertugas merapikan botol-botol minyak dan balsem yang tercecer, memilah barang bawaan Ibu dari RS, yang untuk dicuci dan beberapa printilan dikembalikan ke tempat semula. Juga, bungkusan obat yang tercecer karena keranjangnya jatuh. Ibu melepas dan memasang sprai, aku mengganti sarung bantal dan guling. Ibu lalu menyapu dan mengepel sekadarnya, agar debu-debu lantai tidak terhirup hidung.

Kami mengerjakannya dengan semangat sembari bercerita, suasana kamar terasa hangat kembali. Setelah semua dirasa beres, aku dan Ibu sama-sama merebahkan diri di kasur.

Aku memeluk Ibu, dan sebaliknya. Lalu aku berbisik di telinga Ibu, “Ibu, Ibu boleh sakit, tapi jangan sakit parah lagi, ya… Sakit boleh, tapi jangan sampai rawat inap. Geg Ita kangen Ibu.”

Pelukan Ibu semakin erat dan aku merasa senang sekali.

Januari diakhiri dengan kembalinya keceriaanku. Aku merasa sudah sehat dan Ibu juga semakin membaik. Hanya masih lemas saja, mungkin tidak menyangka akan tiga hari kemarin berada di RS. Banyak tidur membuat badan Ibu seperti kaku dan sangat kelelahan. Lebih nyaman di rumah ketimbang di RS yang rasanya tidak tenang, terlebih pasien seruangan dengan Ibu, para pengunjungnya sedikit berisik.

Akhir kata, Ibu bilang, saat sehat Ibu tidak ingin makan sesuatu yang macam-macam. Tapi giliran sakit, Ibu mendadak ingin makan Bakso, Mie Tek-Tek, Nasi Jinggo dan Babi Guling. Ibu sempat kesal padaku ketika aku mengirim pesan tentang makan mie tek-tek.

Ibu juga bilang, mengapa Ibu tidak sepertiku, yang saat sakit bisa makan ala kadarnya bahkan kadang lebih milih cuma nasi dengan garam. Aku terbahak-bahak mendengarnya.

Denpasar, 31 Januari 2019
Moment campur aduk yang tak terlupakan,
Radita Puspa

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s