Sakit lagi???

Leave a comment

Feb 8, 2019 by Radita Puspa

Januari kemarin, awal bulan disambut sakit. Februari ini juga mendadak diawali sakit. Sakit lagi??? Ufh! Seharusnya tempe manis ini enak, tapi dilidahku terasa hambar. Begitu juga dengan teh manis, dilidah seperti minum air biasa. Gak berasa, tapi… Hmp, kayak ada manis-manisnya gitu!

Pagi buta tadi, aku merasa badan menggigil. Samar-samar kurasakan Ibu dan Bapak mengitari ranjang, sembari berulangkali menyentuh keningku.
“Ibu, minta selimut.” Suaraku terdengar parau. Tak lama aku merasakan selembar kain menutupi badanku.

Lagi, Ibu menyentuh keningku, meyakinkan. Juga meminta pertimbangan Bapak, apakah badanku panas. Dalam keadaan khawatir, beruntung, Bapak teringat dan sigap mengambil termometer.

38,3. Begitu kudengar sayup ucapan Ibu. Ibu yang khawatir semakin cemas, mencari-cari sesuatu untuk mengganjal perutku sebelum diberikan obat. Meski tahu, obat penurun panas yang biasa kuminum aman bagi lambung.

Ibu teringat pisang yang memojok di sudut meja. Pisang itu belum matang sepenuhnya. Lalu, memberiku aba-aba untuk mengunyah.
Aku yang setengah sadar, posisi miring ke kanan dan masih sangat mengantuk, gak bisa protes. Menurut saat disuapi patahan-patahan pisang yang sudah dipilih-pilih Ibu.

Aku merasa lidahku lengket-lengket. Aku paling tidak suka makan pisang yang masih mengkal. Ingin menolak, tapi Ibu terus memcekokiku dengan aba-aba mengunyah.

Kemudian, badanku dipapah Ibu. Bapak sudah menghancurkan obat, lalu masih dengan aba-aba dari Ibu. Aku diminta naikin level kesadaran. Saat membuka mata, kulihat Bapak memegang segelas air dan menyodorkan obat untuk kuminum.

Karena aku merasa sangat ngantuk, aku menurut saja. Meski bingung, akunya kenapa?

Akhirnya, Ibu merebahkan tubuhku kembali dan membiarkanku tidur.

Pagi harinya, aku merasa kebelet pipis. Dengan terhuyung-huyung, aku berjalan menuju kamar mandi. Setelah buang air kecil, aku baru sadar lidahku seperti ada sesuatu menempel, tebal-tebal seperti menyantap makanan bergetah. Pun merasakan adanya butiran-butiran disela-sela gusi yang rasanya, kok ya pahit sekali.

Aku berkumur dan malah kebablasan cuci muka. Sampai kamar, aku tidur lagi.

Saat malam tiba, mendadak aku teringat menanyakan sesuatu pada Ibu tentang apa yang terjadi pagi buta tadi. Soal lidah lengket dan butiran pahit.

“Racun,” sahut Ibu menanggapi pertanyaanku. Tertawa.

“Parutan kulit pisang sama isian kacang pilus,” kata Bapak sembari acuh tak acuh, saat aku menanyakan pertanyaan yang sama.

Ufh! Aku merasa sangat gregetan, langsung beraksi mengambil adik manisku lalu memukul-mukulkannya kebadan Ibu dan Bapak secara bergantian. Sebal, masih dianggap anak-anak dan diceritakan cerita konyol.

Ibu menangkap adik manis, menghentikan aksiku. Sedangkan Bapak, menyentuh keningku, memastikan aku baik-baik saja.

Sungguh, aku bahkan gak bisa mengingat betul kejadian pagi buta tadi.

Denpasar, 7 Februari 2019
Kenapa aku menulis ini?
Nostalgia, kejadian sama kurasakan berulang kali dari masa kanak-kanak.
Makan kue atau roti, atau kadang yang apa saja memang kebetulan tersedia sebagai pengganjal perut. Terlebih harus dapat pertolongan dan waktu tidak memungkinkan. Sakit datang gak bisa ditebak. Sedangkan, aku gak gampang minum sembarang obat. Kalau gak alergi obat, ya kadang ada efek ke lambung.
Sambil menulis ini, aku gak kuasa nahan air mata. Entah, terharu, bersyukur atau hanya bagian dari rasa takut.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: