Kesayangan-Kesayanganku Tersayang

Leave a comment

Feb 9, 2019 by Radita Puspa

Pertama kali dalam hidupku memiliki teman itu, ketika kehadirannya membuat suasana rumah ramai.
Aku suka warna kuning, dia ngikut.
Aku suka rok tangga-tangga, dia ngikut.
Aku suka sandal gladiator, dia ngikut.
Apapun yang kusuka, dia juga suka.
Walau kutahu, dia hanya peniru ulung dari setiap apapun yang kulakukan dan kusuka.

Belum juga dia beranjak remaja, dia sudah bisa diajak ngobrol banyak tema.
Mulai dari tari, lukisan, musik, barang lucu, kartun favorit, de es be.
Aku gak pernah absen dalam mendengar celotehnya.

Makin bertambah umur, dia mulai punya gaya tersendiri, ciri khas tersendiri dan syukur banget dia gak alay.

Cintya (keponakan), Putri (keponakan), Ayu Wintari (adik)

Waktu terus berlalu…
Aku memiliki dua teman tambahan yang lucunya kebangetan.
Yang satunya cerewet dan super manja. Satunya lagi, usianya masih kecil tapi hebat sekali. Bisa mandiri, pengertian, dan punya rasa tanggung jawab.

Mereka bertiga ini membuat hari-hariku jadi berwarna. Keceriaan mereka cepat sekali menulariku. Rasanya kalau mereka mengitariku, mood-ku langsung ketiban happy.

Kupikir ini lebih dari cukup dan lengkap untukku. Tapi, Tuhan Maha Baik. IA memberiku seorang teman lagi. Aku hampir saja melupakannya. Karena sebelumnya kita berdua tidak terlalu dekat. Oh My God…

Tri Astari (keponakan, anak dari kakak kandungku). Btw, ini foto lamanya yang dulu pernah iseng kuedit. Aku gak punya foto terbarunya. Padahal aku ingin ada potretnya mengenakan dress biru dengan hiasan bunga batik

And surprisingly, suatu hari aku menerima pesan berisi cerita-cerita konyol harian tentangnya. Aku langsung terpekik, “Astaga, aku ternyata punya copy-paste diriku-sendiri.”

Ah, seharusnya kita jauh lebih dekat dari dulu. Bukan dari setahun belakangan ini. Aku berusaha memberikan porsi perhatian yang sama untuk semuanya.

Aku suka setiap kali baca pesannya. Kata-kata yang diketiknya tertulis rapi, terstruktur dengan baik untuk anak seusianya.

Hari demi hari, setiap aku menengok pesan online. Hal pertama yang kulihat, lebih tepatnya menunggu cerita konyol apa yang akan disajikannya untukku?

Namun, dibalik kepintarannya dalam menata kalimat disetiap pesan yang dikirimnya. Aku bersedih kala tahu, ia anak minderan. Sama sepertiku dulu. Hanya saja, aku memendam rasa minder didalam. Tidak kuizinkan siapapun tahu. Sedangkan dirinya, ia mengungkapkan rasa mindernya dengan gerak-geriknya. Aku memberikannya semangat bahkan teknik-teknikku menghalau rasa minder. Terakhir kepadanya, aku bahkan membongkar betapa aku cukup sadis menjawab setiap pandangan mata yang meremehkanku. Aku sampai lupa, situasi bisa berbeda. Yang kualami mungkin tidak sepenuhnya sama dengannya. Aku berharap ia setegar batu karang dan tidak terbelenggu oleh rasa minder. Karena setiap manusia tercipta unik.

Happy Valentine Day untuk empat bidadari-bidadari kecilku.

Kesayanganku semuanya, terima kasih sudah memberiku banyak keceriaan. Aku sangat menyayangi kalian.

Moment kebersamaan kita gak akan pernah kulupakan sampai kapanpun.

Jika bertambah besar nantinya, semoga kalian tetap bisa jadi sahabat terbaikku dan selalu saling menyayangi satu sama lain. Tetap kompak, heboh dan gila-gilaan.

Satu yang kusuka dari kalian semua, selalu mengingatkanku, “Hari ini, jangan lupa bahagia, ya…”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: