#ItaCerita · Review Apa Aja

Donasi Rambut, Akhirnya!

Beberapa tahun yang lalu, saya pernah nulis caption di photo profil Facebook, isinya :

Dulu hanya sebatas keinginan. Lagipula, waktu itu saya merasa sedikit ribet kalau donasi rambut dengan potongan rambut saya yang tidak rata (layering). Sebab, hairstyle favorit saya dari kecil kalau gak type haircut shaggy ya emo. Jadi, gak pernah punya potongan rambut rata gitu.

Berawal dari tahun 2018, kok ya kondisi saya kembali sakit-sakitan seperti dulu. Yang terbayang saat terbaring di ranjang tidur berhari-hari itu, ya merelakan rambut dipotong.

Sejak kecil, saya suka sekali memanjangkan rambut. Tapi kalau kondisi drop dan jadi sering bolak-balik opname, saya gak mau menambah beban Ibu. Yang sudah ribet ngurus saya, juga harus menyisir rambut saya yang panjang. Dan yang paling bikin gregetan itu, kalau saya sakit (padahal sih kelihatannya cuma batuk, pilek dan asma) itu keseringan selama dua mingguan rambut tidak terurus. Bukan, bukan karena Ibu tidak sempat menyisir atau mengikat rambut saya, tapi dikarenakan kondisi saya yang sudah lemah, makin lemah saat sakit. Jangankan untuk sisiran, untuk sekedar duduk dan makan saja sulit.

Di tahun 2018 itu, saya sakit setiap pergantian cuaca. Setahun sampai empat kali sakit. Dan di awal tahun 2019 – hingga maret, saya sakit dua kali berturut-turut. Seperti tidak ada jeda rasanya.

Akhirnya niat potong rambut yang sudah dipendam dari tahun 2017 menyeruak. Ibu dan Bapak sebenarnya tidak setuju, tapi melihat keinginan saya yang kuat mereka cuma bisa pasrah. Yang penting nanti saya gak menyesal.

Sebenarnya sedih sih, kudu potong rambut. Tapi mau gimana lagi. Kondisi juga sedang tidak baik, kalau sakit supaya gak tambah riweh juga.

Permasalahan selanjutnya, dari tahun 2017, setiap akan potong rambut. Niat ke salon tertunda-tunda. Merasa kok ya sayang duitnya, begitu sakit mikir kenapa pas kemarin mau ke salon itu cuma rencana dan wacana.

Akhirnya, bermodalkan tutorial di berbagai situs internet, saya mencari cara potong rambut yang hasil haircutnya sesuai keinginan saya.

Dan saya baru tahu lho, ternyata agar rambut yang modelnya tidak rata ini (layers) bagian yang terpotong (disisihkan) supaya jadi bisa agak merata ada trick-nya. Kalian bisa baca di postingan saya yang ini : Cerita Potong Rambut

Setelah saya merasa yakin untuk potong rambut, atau lebih tepatnya yakin akan hasil potongan sendiri nantinya, saya mulai menyiapkan keperluan untuk potong rambut termasuk mendokumentasikan potret diri sebelum potong rambut.

Perasaan saya saat potong rambut, ya lega, ya sedih, ya campur aduk. Awalnya potongan rambut itu, saya serahkan ke Ibu. Ibu bilang akan dibuatkan sanggul. Tapi hingga berminggu-minggu, rambut saya tersimpan rapi di lemari.

Sampai akhirnya saya menemukan postingan ini di facebook. Ibu langsung support kalau lebih baik potongan rambut saya di donasikan saja.

Karena jarak rumah dengan lokasi acara cukup jauh, akhirnya saya menghubungi nomer WA yang tertera. Kami diskusi dan diputuskanlah rambut saya dikirim via ojek aplikasi.

Saya ingat sekali, waktu kurir ojek aplikasi menelepon. Sekitar pukul sepuluh pagi dan saya masih tidur. Saat menerima telfon dari Pak kurir ojek yang sudah di depan rumah. Spontan saya bangkit dari ranjang dan mengemas potongan rambut agar tidak jatuh atau hilang di jalan.

Pak kurir ojek sempat kaget saat tahu isi paketannya seikat rambut. Dan yang lebih mengejutkan lagi, saya mikirnya paket dibawa ke lokasi tempat acara diadakan. Eh ternyata, langsung cuusss ke Gianyar. Ke salon yang akan memproses potongan rambut saya menjadi wig.

Tanggal 15 Mei 2019, sebuah pesan WA masuk berisi sebuah slide video foto-foto penerima wig pertama. Terharu, karena potongan rambut saya dikerjakan paling pertama. Bahagia juga melihat Sinta mengenakan wig-nya yang menjadi mahkota dikepalanya dan sungguh, ia terlihat sangat cantik.

Saya jadi semangat untuk memanjangkan rambut lagi. Dan akan mendonasikannya lagi kalau ada kesempatan.

Selamat untuk Sinta dan mahkotanya, saya turut senang bisa berbagi kebahagiaan memiliki rambut panjang dan indah.

Advertisements

2 thoughts on “Donasi Rambut, Akhirnya!

    1. Iya, Mufi. Pengalaman dimana ada sesuatu yang bisa Tha bagiin. Tha dari kecil emang terbiasa rambut panjang. Pas sakit, terpaksa dipotong. 😭 Begitu sehat, panjangin lagi. Rasanya gak pede gitu, rambut pendek. Kalo rambut panjang, ya berasa agak naiklah level cantiknya lagi tiga strip. 😂

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s