#ItaCerita

A Girl With Scoliosis (and Marfan Syndrome)

Line Art ala Radita Puspa – #AGirlWithScoliosis
Status Instagram

Sudah lama sebenarnya saya ingin check up Skoliosis, tapi sempat tertunda karena ada saja halangan. Terakhir ke Orthopedi di tahun 2015, saya ditangani oleh Dokter Mulyadi.

Yang saya rasakan, saat di tahun 2013 (ditangani Dokter Mulyadi juga), terkadang terasa nyeri di punggung. Dan di tahun 2015, ada masa tiba-tiba nyeri di bagian tulang dada. Dan saat ini, nyeri kadang terasa di pinggang, pinggul hingga ruas tulang ekor.

Karena saya pakai BPJS, ya seperti biasa, harus urus surat rujukan yang syukurnya lancar semua. Tanggal 23 April yang lalu, saya ke RS. Sanglah setelah membuat perjanjian dengan Dokter Lanang via WAG dan mengambil antrian online di website RS.

Sayang, ternyata Dokter Lanang sedang rapat. Sehingga saya ditangani oleh asistennya yaitu Dokter Dedy (kalau gak salah ingat).

Konsul hari itu cukup lama, karena ngobrolin riwayat skoliosis dan lainnya yang saya idap. Berulang kali saya lihat ekspresi Dokter Dedy yang sedikit terkejut tentang kondisi saya secara menyeluruh.

Kemudian Dokter Dedy dan ada seorang dokter lagi —yang gak saya ketahui namanya, membantu untuk mengukur kelengkungan tulang belakang saya dan mendokumentasikannya. Ya seperti deteksi skoliosis umumnya, salah satunya Adam’s Forward Bending.

Pertemuan diakhiri, saya diminta menuju ruang rontgen. Saat X-Ray, melakukan sekitar enam posisi tubuh. Seperti berdiri —walau tidak bisa tegak, miring kanan, miring kiri, dsb.

Oh iya, hasil X-Ray berupa softcopy dan saat itu juga dikirim langsung via online pada Dokter yang menangani. Setelah selesai, saya pulang sekitar pukul dua siang. Dan, sebelum sesi konsultasi berakhir, Dokter Dedy meminta nomor telepon saya dan nantinya akan dihubungi.

Hasil X-Ray MyBeautyScoli 2019

Satu bulan berlalu, saya belum dapat kabar. Akhirnya, saya mention Dokter Lanang di WAG. Lalu tidak lama, sebuah telepon masuk. Dari asisten dokter Lanang, namanya Dokter Alit.

Dokter Alit meminta saya ke RS, dan kami memutuskan bertemu di hari senin, tanggal 27 Mei.

Saya berangkat ke RS pukul delapan pagi, saya hampir ketinggalan antrean. Padahal nomer online yang saya dapat angkanya 250 keatas.

Setelah menunggu cukup lama di poliklinik Orthopedi, akhirnya nama saya dipanggil oleh seorang perawat.

Saat bertatap muka dengan Dokter Alit, beliau menjelaskan secara rinci. Yang intinya, skoliosis yang saya idap berbeda dengan skolioser lainnya dan kondisi saya cukup langka. Selain karena bawaan lahir —yang baru terlihat ketika remaja, juga ada PJBB dan Marfan Syndrome.

Ya, masih sama dengan jawaban yang saya dapatkan dari dokter-dokter yang pernah menangani tulang belakang saya sebelum-sebelumnya. Belum ada jawaban pasti, mengingat kondisi saya yang juga sangat lemah. Dokter Alit mengatakan bahwa, Dokter Lanang sedang mendiskusikannya —dengan rekan Dokter Spesialis Orthopedi (di Solo, kalau gak salah dengar) mengenai langkah terbaik untuk saya.

Pertemuan diakhiri, Dokter Alit meminta saya untuk rutin konsultasi setiap bulan sebagai observasi. Siang itu, saya pulang ke rumah dengan berjalan kaki dari RS menuju halte Sanglah 1 yang lumayan jauh —di penghujung pengkolan jalan, menumpang bis (Trans)Sarbagita.

*) Ditulis dalam rangka memperingati June is Scoliosis Awareness Month.

Advertisements

2 thoughts on “A Girl With Scoliosis (and Marfan Syndrome)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s