Mau Cerita Saja · Review Apa Aja

Pengalaman ikut #GerakanKreabilitas (2)

Sabtu, 29 Juni 2019. Day 2 – Ayo Ketemu! Gerakan Kreabilitas

Saya dan teman-teman semuanya sarapan pagi di Hotel Taksu Sanur. Sepertinya hanya saya yang tidak berselera makan. Tapi berusaha untuk menikmati kue (plain) dari hidangan Hotel. Tapi syukurlah, masih ada yang makanan yang masuk ke perut. Salad buah, itupun hanya beberapa potong.

Sambil menunggu yang lain selesai sarapan, saya memilih untuk rebahan di …apa sih sebutannya ini? Di dekat kolam renang hotel.

Agenda hari ini, kita diajak ke Jenggala Keramik di Kuta, sharing dari product designer sebuah merk keramik tertua di Bali. Kita dibagi menjadi 2 tim. Tim pertama, langsung ke Kelas Kreatif, Paint A Pot bareng Jenggala. Dan tim yang kedua, kita mengunjungi tempat operasional proses pembuatan keramik.

Nah, saya tim dua, nih. Ada seorang Bapak —yang saya lupa catat namanya, Beliau menjelaskan secara detail mulai dari bahan keramik, proses pembentukan, ada cetakan-cetakan dari mesin, ada juga yang dibuat manual, lalu proses pembentukan semacam ukir, lalu ada yang juga diwarnai, dilukis dan yang akhirnya setelah proses akhir lalu dibakar (pengovenan). Dan, saya agak kaget, ternyata keramik itu bahannya tanah liat.

Saya sempat berpikir, keramik itu terbuat dari semen. Ya agak logic sih, karena semen itu hasil akhirnya licin. Juga mikir, mungkin keramik pakai bahan yang mirip aspal. Aspal juga licin, kan? Aduh, logic tipe asal nebak.

Selanjutnya, saya dan teman-teman diarahkan ke sebuah ruang. Kami diberi kesempatan bermain tanah liat. Membuat kreasi apapun yang kami suka. Oh iya, sebelumnya kita diminta untuk memakai celemek.

Mbak Puri Ardini menjelaskan beberapa hal, salah satunya, menegaskan bahwa tanah liat yang ada di meja (hadapan) kita itu aman dan tidak beracun.

Saya agak blank disini, bingung harus membuat apa. Saat mencoba menekan adonan tanah liat, ternyata saya gak cukup kuat untuk membentuknya. Cukup lama berpikir sampai akhirnya saya hanya sekedar membuat goresan di adonan tanah liat. Agak sedih sih, karena kesempatan ini gak bisa saya gunakan untuk berkreasi dengan baik.

~~~
Catatan Cerita 8 :
Saya hanya sebentar saat melihat proses pembuatan keramik. Meski ruang ada kipas angin dan ada celah keluar masuknya udara. Tapi saya merasa dada agak sesak. Sehingga saya memilih untuk kembali ke ruang utama Jenggala.
~~~

Kita berkumpul di ruang santai (seperti kafetaria) untuk makan siang bersama.

Sesi selanjutnya, giliran tim pertama melihat-lihat proses pembuatan keramik dan bermain adonan tanah liat. Saya dan tim kedua diarahkan menuju ruang, seperti kelas. Kami diminta memakai celemek yang tersedia di meja. Ada media lukis berupa cangkir, mangkok, dan piring yang sudah kami pilih via WAG. Kebetulan saya memilih media piring.

Saat melukis di piring, saya membuat gambar bunga seroja. Namun, saya lupa teknik pewarnaannya. Karena sudah lama sekali rasanya saya gak pegang kuas lukis. Terakhir melukis itu semasa SMP. Dan lagi-lagi saya nge-blank. Akhirnya, terjadilah salah teknik pewarnaan. Sedih deh, kesempatan yang harusnya bisa eksplor malah kayak gak serius mengerjakannya.

~~~
Catatan Cerita 9 :
Saat melukis, saya merasa sangat lemas. Ketika jeda makan siang, saya makan roti yang sengaja saya bawa dari hotel. Agak maksain diri untuk makan. Badan sudah gemetaran, gak bisa fokus. Maag kumat tanpa ampun, sudah minum obat tapi tumben-tumbennya gak mempan sama sekali. Merasa percuma minum obat.
~~~

Setelah selesai, kami berkumpul untuk berfoto bersama. Kemudian kami menuju Sudamala Villa & Resort.

Sesi berlanjut, Ngobrol Santai : Mereka adalah Seniman. Ada Ella Ritchie selaku Direktur dan Co-Founder IntoArt, UK.

Memperkenalkan IntoArt yang merupakan studio seni dan desain di London Selatan. Bekerja secara insklusif dengan orang-orang disabilitas dan kemampuan khusus atau spesial. Sebuah studio yang mana orang-orang dengan ketidakmampuan belajar memiliki kesetaraan kesempatan untuk berlatih sebagai seniman.

Product-nya ada t-shirt, kaos kaki, syal, pin, dan lain sebagainya dengan lukisan berbagai tema.

Saat Ella Ritchie menunjukkan sebuah t-shirt lengan panjang berwarna oranye, ada gambar kartun zebra yang lucu sekali. Ah, jadi pengen punya.

Di akhir obrolan, kami dibagikan sebuah cindramata dari IntoArt berupa pin dengan tema Magic. Saya pilih gambar “Tongkat Ajaib, Abrakadabra”.

Lalu jeda coffe break, 15 menit. Kemudian berlanjut ke sesi “Mengembangkan dan Mengemas Produk sesuai Pasar”.

Kak Jane Showell memberikan banyak penjelasan beserta uraian untuk persiapan Pasar (Pitch) Ketemu di hari esok. Termasuk juga penilaian juri meliputi apa saja.

Kita semua diminta mengisi lembaran, menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ada, yang merupakan sebuah gambaran untuk presentasi.

Oh iya, sempat ada sesi permainan yang dipandu oleh Pak Budi Agung Kuswara. Kita duduk melingkar. Ada sebuah mangkuk mungil dari batok kelapa yang berisi tanaman padi. Pak Budi menjelaskan filosofi padi kemudian secara bergilir, kami diminta untuk menyampaikan apa harapan kami tentang Gerakan Kreabilitas sembari memegang mangkuk padi.

Setelah itu, ada juga permainan kepekaan. Dari suara jentikan jemari, tepuk dua jari, tepuk tangan, tepuk paha dan injak bumi. Kami diminta untuk memejamkan mata lalu mendengar instruksi bunyi-bunyian kemudian menebaknya dan melakukan sesuai yang kita dengar.

Sesi berlanjut, kami menuju Rumah Sanur, dan makan malam bersama.

Selanjutnya adalah acara terbuka untuk umum / publik. Ngobrol Santai : “Art has Save My Life” oleh Hana Madness selaku Seniman Visual yang juga Aktivis Kesehatan Mental dan Budi Agung Kuswara.

Kak Hana bercerita tentang karya-karyanya. Nah, kebetulan saya suka juga bikin doodle. Di balik karya lucu dan warna-warni doodle yang Kak Hana lukis, ada sekelumit kisah dibaliknya.

Kak Hana mengatakan dirinya mengidap Skizofrenia dan Gangguan Bipolar. Merasa membutuhkan sesuatu untuk eksistensi diri. Kak Hana juga bercerita, bahwa dirinya dulu pernah menolak keadaan dan menyalahkan orang lain. Hingga akhirnya Kak Hana bisa bangkit dan menerima kondisi, membuka diri dan membiarkan rasa depresi maupun halusinasi ada pada dirinya. Hingga akhirnya, Kak Hana menciptakan karakter-karakter doodle (makhluk-mahkluk kecil) yang merupakan presentasi dari halusinasinya. Kemudian karakter tersebut diberi nama, ada Skizo, Medico, Polar, Bipo, dan lain sebagainya.

Pak Budi Agung Kuswara yang kerap disapa (nama panggungnya) Kabul, juga bercerita tentang Ketemu Project, tentang kegiatan seni di Rumah Berdaya.

Acara diakhiri dengan foto bersama. Lalu kami kembali ke Hotel Taksu Sanur.

~~~
Catatan Cerita 10 :
Saat sampai di hotel, alih-alih beristirahat, saya mempelajari lagi hal-hal mengenai Pasar Pitch / Pasar Ketemu di esok hari. Malam itu waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Rasanya lumayan capek sekali. Saya yang sudah dua hari tidak mandi, jadi mau tidak mau, saya harus mandi malam itu juga. Manapula gak pernah mandi di hotel. Ribet untuk atur hangat airnya. Puter sana, airnya dingin sekali, putar sini eh terlalu panas airnya.
~~~

Sebelum tidur, saya sempat melihat akun facebook dan instagram semua teman-teman. Mencari teman untuk diajak berkolaborasi. Setelah menelusuri satu-persatu, saya merasa tidak ada kecocokan satu sama lain. Kalau dipaksakan, yang ada kalau gak saya yang kelelep, ya teman kolaborasi yang jadi kelelep. Padahal kan tujuan kolaborasi adalah saling melengkapi karya satu dan lainnya. Sama dan setara.

Pukul dua belas malam, setelah berdoa, kemudian saya terlelap.

💜

@ketemuproject @theartsdevelopmentcompany @britishcouncil @idbritisharts
#GerakanKreabilitas #ketemuproject #indonesiaramahdisabilitas #BCDICE #socent

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s