Mau Cerita Saja · Review Apa Aja

Pengalaman ikut #GerakanKreabilitas (3)

Minggu, 30 Juni 2019. Day 3 – Ayo Ketemu! Gerakan Kreabilitas

Seperti biasa, kita sarapan pagi di Hotel Taksu Sanur. Agenda dari pagi hingga pukul 12 siang, sesi Uji Gagasan.

Kesempatan untuk mengenal lebih banyak dengan teman-teman yang juga peserta dan mencari teman untuk diajak berkolaborasi.

~~~
Catatan Cerita 11 :
Pagi itu, saat sedang bersiap-siap untuk sarapan. Mendadak saya muntah-muntah. Perut rasanya sangat tidak nyaman. Minum obat, lalu muntah lagi. Beruntungnya, saya masih bisa makan roti. Alih-alih mencari teman kolaborasi, saya meminta izin via WAG untuk istirahat di kamar hotel.
~~~

Saya sempat ketiduran. Terbangun karena ada pesan WAG yang meminta kami kumpul untuk foto (sendiri / grup kolaborasi) dan membawa karya (barang) masing-masing untuk Penjurian serta bersiap menuju Rumah Sanur.

Sampai di Rumah Sanur, kami makan siang bersama. Setelah itu kita diberi nomor dan ditunjukkan meja tempat kami masing-masing memajang karya. Saya dapat nomer urutan 11.

Saya pun mulai menata keranjang daur ulang yang terbuat dari koran dan brosur, gambar fashion design yang sudah saya cetak, menggantung dua setelan (atasan+rok+ikat rambut) dan tentunya boneka barbie saya, namanya Tara. Saya dan Tara memakai pakaian dengan model yang sama, warna biru dengan motif polkadot. Dan, hampir saja saya lupa memajang tulisan, “Tak Ada Rotan, Koran pun Jadi”.

~~~
Catatan Cerita 12 :
Saat menulis ini, saya baru ngeh. Kok bisa pas gitu ya, Gerakan Kreabilitas ini kan dari logonya identik biru dan jingga. Nah lho, dress saya dan Tara warna biru. Sedangkan setelan yang saya jual warnanya jingga. Kebetulan sekali.
~~~

Pasar Ketemu, sudah siap. Para juri mulai berkeliling menilai presentasi dan karya kami. Pertama, saya dikunjungi oleh Kak Yap Mun Ching selaku Direktur Eksekutif, AirAsia Foundation. Kemudian, Kak Camelia Harahap selaku Ketua Departemen Industri Seni dan Kreatif, British Council Indonesia. Lalu, Pak Slamet Thohari selaku Dosen, Peneliti & CO-Founder CDSS, Universitas Brawijaya. Tidak lama kemudian, saya dihampiri oleh Bu Mayun Dewi selaku Manager Wirausaha Sosial, Ketemu Project. Pak Baskoro Junianto selaku Tenaga Ahli & Kurator, Bekraf, datang menyapa. Dan senang rasanya, saya diberi masukan untuk lebih banyak eksplorasi di bagian desain busana. Yang terakhir, Ella Ritchie selaku Direktur & CO-Founder, IntoArt UK. Sempat agak grogi, karena gak nyangka akan diberi pertanyaan yang sangat super detail, yang mana diluar dari apa yang sudah saya persiapkan. Agak jleb, sih.

Sesi dilanjutkan dengan mencari voting dari pengunjung. Agak lucu, setiap pengunjung yang mampir ke meja saya. Banyak diantaranya yang salah baca tulisan yang saya pajang. Tepatnya pada kata ‘koran’ dibaca ‘akar’. Saya sampai bolak-balik cek tulisan, memastikan saya tidak salah ketik / typo.

Ada salah seorang pengunjung, laki-laki yang mengaku dirinya juga doll lover. Sangat ingin meminang Tara, boneka barbie saya. Pengen rasanya saya jawab, “Kenapa gak pinang saya saja, Bli? Tara itu toh, juga saya.” Tapi saya urungkan niat itu. Dia mencoba bernegoisasi agar saya mau menjual Tara. Tapi saya kukuh mengatakan barbie itu hanya pemanis (pajangan). Ada juga beberapa pengunjung lain yang ingin mengadopsi Tara. Beberapa diantaranya memotret Tara, memainkannya. Ada pengunjung yang diantaranya anak-anak berkeliling lalu berulang kali mampir ke meja saya hanya demi bisa melihat dan menyentuh Tara.

Soal perolehan suara dari pengunjung, ada yang saya kudu harus menjabarkan detail karya, sampai mulut berbusa barulah setelahnya mereka menempelkan bulatan pertanda memberi dukungan. Ada juga pengunjung yang saya hanya menjelaskan sedikit, lalu mereka sudah paham dan mengerti. Kemudian menempelkan stiker tanda dukungan. Dan ada juga lho, yang menempelkan stiker ke papan meja saya tanpa perlu dijelaskan apapun. Ada juga yang diam-diam menempelkan stiker tanpa sepengetahuan saya.

Agenda berakhir, saya mendapat perolehan suara sebanyak 10. Oleh panitia, kami diminta untuk merapikan karya-karya kami, dan bersiap kembali ke Hotel Taksu Sanur.

~~~
Catatan Cerita 13 :
Saat setelah semua juri selesai menilai, sembari mencari voting dari pengunjung, kami juga makan malam bersama.
Saat itu, badan saya sudah sangat lemas. Dari pagi hanya makan sedikit kue dan buah. Tapi saat Ibu datang ke meja saya dan membawa sebungkus bakso, entah kenapa saya langsung gembira sekali. Setelah tiga hari, nafsu makan saya yang kacau, maag yang kambuh tanpa ampun, akhirnya saya bisa makan dengan sangat berselera. Walau makan sedikit-sedikit / terputus-putus, karena lumayan banyak pengunjung yang mampir ke meja saya. Banyak yang penasaran dengan keranjang koran yang saya buat dan banyak juga pengunjung yang memotret desain busana yang saya gambar.
Begitu juga ketika sampai hotel, sesaat sebelum tidur. Saya mengobrol dengan Ibu. Bersyukur sekali saya bisa melalui hari-hari selama acara Gerakan Kreabilitas. Karena hanya saya yang lulusan Paket C, yang lainnya ada yang sarjana, ada yang sudah sangat mahir dibidangnya, dan ada juga yang mewakili (memiliki) sebuah komunitas. Sungguh kompetisi yang tidak main-main.
Oh iya, ada seorang Ibu dengan anak kecil yang ternyata adiknya Kak Winda yang juga peserta Gerakan Kreabilitas. Matur tengkiyu ya, sudah membeli kreasi keranjang serbaguna daur ulang (kertas brosur) berbentuk Hello Kitty.
~~~

💜

@ketemuproject @theartsdevelopmentcompany @britishcouncil @idbritisharts
#GerakanKreabilitas #ketemuproject #indonesiaramahdisabilitas #BCDICE #socent

Video bisa dilihat di :

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s